Universitas Airlangga Official Website

BEM FKG Bahas Pentingnya Soft Skill bagi Profesi Dokter Gigi

Dokumentasi saat penyerahan sertifikat acara STOVIT Development Training Program – Day 1 pada Sabtu (19/4/2025) (Foto: Rosa Maharani)
Dokumentasi saat penyerahan sertifikat acara STOVIT Development Training Program – Day 1 pada Sabtu (19/4/2025) (Foto: Rosa Maharani)

UNAIR NEWS – Pada Sabtu (19/4/2025), Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan Stovit Development Training Program – Day 1. Salah satu narasumber dalam kegiatan ini adalah Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA SubspKKAK yang membawakan materi bertajuk Beyond the Smile: Developing Skills That Last a Lifetime.

Dalam pemaparannya, Prof Sindy menekankan pentingnya pengembangan soft skill dalam profesi kedokteran gigi. Menurutnya, tantangan di dunia klinis tidak bisa terselesaikan hanya dengan mengandalkan hard skill. “Pintar saja tidak cukup, karena banyak hal yang tidak diajarkan secara akademis namun sangat memengaruhi kehidupan seorang dokter gigi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa soft skill klinis, seperti empati dan kemampuan mendengarkan aktif, sangat penting. “Setiap orang memiliki kemampuan ini dalam tingkat yang berbeda, dan tidak bisa terukur hanya dari IPK atau hasil ujian. Kemampuan ini terbentuk dari pengalaman serta karakter pribadi, sehingga perlu untuk terus berkembang,” tambahnya.

Prof Sindy juga menyoroti pentingnya memahami sisi psikologis pasien. Sebagian besar pasien datang dengan keluhan umum, namun faktor psikologisnya jauh lebih besar. “Saat ini, sekitar 80 persen penyakit bersifat psikosomatik. Ketakutan atau kecemasan pasien bisa diringankan hanya dengan didengarkan. Memberikan solusi sambil mendengarkan merupakan bentuk soft skill yang perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun relasi jangka panjang dengan pasien dan bukan sekadar berorientasi pada keuntungan. “Dokter yang mampu menjalin hubungan jangka panjang dengan pasien akan memberi manfaat lebih besar,” ucap Prof Sindy.

Dalam pelayanan, Prof Sindy juga menekankan pentingnya nilai sabar, jujur, dan transparan, baik dalam menyampaikan diagnosis maupun soal biaya. Namun, ia mengingatkan bahwa transparansi perlu sesuai dengan kondisi psikologis pasien. “Kita perlu untuk tetap transparan tanpa menjatuhkan mental pasien,” katanya.

Tak hanya membahas soft skill, Prof Sindy juga mengajak peserta untuk memiliki growth mindset dan kemampuan beradaptasi. “Kritik dan saran itu penting agar kita terus berkembang dan tidak nyaman hanya di zona aman,” ungkapannya. Ia juga mendorong eksplorasi hal-hal baru, seperti digital dentistry dan pembuatan konten edukatif agar dokter gigi tidak tertinggal zaman.

Penulis: Rosa Maharani

Editor: Yulia Rohmawati