Universitas Airlangga Official Website

BEM UNAIR Bagikan Teknik Penulisan Jurnal Ilmiah hingga Cara Hindari Jurnal Predator

Pemaparan materi oleh Dr Dessy Marisanty S Sos MA dalam Airlangga Mentoring Room Vol. 3 (12/10/25)
Pemaparan materi oleh Dr Dessy Marisanty S Sos MA dalam Airlangga Mentoring Room Vol. 3 (12/10/25) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kementerian Riset dan Keilmuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) mengambil langkah strategis untuk mencetak mahasiswa berprestasi pada bidang jurnal ilmiah. Langkah tersebut diwujudkan dalam kegiatan Airlangga Mentoring Room Vol. 3 yang terselenggara pada Minggu (12/10/25) di Ruang 3.09 Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus MERR-C.

Kegiatan tersebut mengundang Koordinator Journal Development UNAIR, Dr Dessy Marisanty SSos MA. Ia menjelaskan bahwa menulis karya ilmiah yang baik memerlukan jam terbang yang tinggi. Seperti rutinitas membaca jurnal ilmiah untuk mengetahui gaya penulisannya. Karena aturan jurnal ilmiah yang mengedepankan kepadatan isi, membuatnya berbeda dengan karya tulis lain. 

Dessy menjelaskan, struktur yang umum digunakan dalam penulisan ilmiah adalah IMRaD (Introduction, Method, Result and Discussion). Di introduction yang membahas latar belakang, ia menjelaskan istilah das sein dan das sollen. Das sein merupakan kondisi nyata yang terjadi, sedangkan das sollen merumuskan idealitas. Dua hal tersebut dapat dikomparasikan untuk menemukan gap yang bisa diangkat menjadi masalah. 

Berikutnya, result merupakan penyajian data berupa tabel. Dalam hal ini, informasi yang sudah terdapat pada tabel tidak perlu ditulis kembali dalam keterangannya, cukup  dijelaskan cara membaca hasilnya. “Sedangkan, discussion menjelaskan perbandingan antara hasil temuan penelitian yang dilakukan dengan konsep atau teori sebelumnya, sehingga diperlukan sitasi dari penelitian sebelumnya dalam lima tahun terakhir,” terang Dessy.

Selanjutnya, Dessy memberi tips agar karya ilmiah dapat terbit pada jurnal. Selain memiliki kebaruan, topik harus mengikuti tren. “Makanya kita harus adaptif juga. Jadi ketika mau meneliti, mau publish, tujuan kita itu untuk publish, biasanya saya cek dulu. Saya orientasinya ke jurnal top tier. Kalau di Indonesia itu kan orientasinya ke Scopus. Di Scopus itu ada leveling,” katanya.

Tidak kalah penting dengan topik, hal yang perlu menjadi perhatian adalah pemilihan media penerbit. Tidak jarang, banyak peneliti yang terjebak dengan jurnal predator. “Jurnal itu seperti kita hidup. Kita tidak bisa menjamin kita matinya kapan. Kita tidak tahu kita berakhirnya kapan. Jurnal itu juga demikian. Sekarang kelihatannya baik-baik saja, kelihatan sehat bugar. Eh, enggak tahu nanti atau besoknya,” imbuhnya.

Terindikasinya penelitian pada jurnal predator bisa akibat dari kurangnya kehati-hatian dalam memilih jurnal penerbit. “Kita harus benar-benar aware. Yang pertama, tidak hanya memastikan kualitas dari publikasi kita bagus, tetapi kita juga harus memastikan tempat publikasi kita juga harus tepercaya. Cara ceknya tadi ke Scimago, Scopus. Tidak berhenti di situ, kita harus cek apakah jurnal atau penerbit itu Predator atau tidak,” lanjutnya.

Selanjutnya, Desy menjelaskan level kualitas jurnal dan memberikan praktik untuk mengetahui kualitasnya. Misalnya pada Scopus yang memiliki empat level, jurnal dengan kualitas rendah yang ditunjukkan dengan Q4, hingga jurnal berkualitas tinggi yang ditandai dengan Q1. Di tingkat nasional, ada Science and Technology Index (SINTA), pengindeksan jurnal ilmiah yang pada level satu dan dua setara dengan Scopus.

Penulis: Uswatun Khasanah 

Editor: Yulia Rohmawati