Pencemaran sampah plastik merupakan masalah paling dominan di berbagai bagian dunia, dan telah meningkat sejak tahun 2020. Sampah plastik yang terdegradasi dapat mengakumulasi di lingkungan, khususnya ekosistem mangrove, yang berperan sebagai penangkap sedimen, memungkinkan akumulasi berbagai material. Nafisyah et al. (2023) melakukan studi analisis kelimpahan mikroplastik di kawasan mangrove Surabaya, tepatnya di Wonorejo. Sampel diambil pada saat musim penghujan (Desember 2021) ketika air pasang dan air surut sebanyak lima sampel air dan tiga sampel sedimen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati kelimpahan mikroplastik yang mengakumulasi tidak hanya di perairan saat pasang tinggi tetapi juga di sedimen saat pasang surut.
Hasil penelitian ini digunakan untuk memberikan informasi tentang polusi lingkungan yang terjadi di ekosistem mangrove Surabaya. Empat jenis mikroplastik diamati dalam sampel air dan sedimen yaitu fragmen, serat, film, dan granul. Kelimpahan mikroplastik rata-rata di perairan adalah 8×106 partikel/km2, sementara di sedimen sebesar 1.5×109 partikel/km2. Analisis Fourier Transform Infra-Red (FTIR) juga dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik mikroplastik. Dari kedua sampel air dan sedimen, kontaminasi mikroplastik di perairan dan sedimen mangrove Wonorejo Surabaya terdiri dari Polyvinyl alcohol (PVA), Polyvinyl chloride (PVC), Polypropylene (PP), Polystyrene (PS), dan Polyethylene (PE).
Penulis: Ayu Lana Nafisyah, S.Pi., M.Sc., Ph.D.
Jurnal: Microplastic abundance in Surabaya mangrove areas during the wet season





