n

Universitas Airlangga Official Website

Berlaku Ikhlas, Dani Maroe Beni Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik S2 FISIP UNAIR

ikhlas
DANI Maroe Beni dengan suatu piagam atas prestasinya. (Foto: Dok Pribadi)

UNAIR NEWS  – “UNAIR memiliki suasana pendidikan yang egaliter. Antara dosen dan mahasiswa terjalin begitu akrab dan sangat toleran dalam menyampaikan pendapat.” Itulah penilaian Dani Maroe Beni terhadap kampus tercintanya.

Melalui tesis berjudul “Strategi Komunikasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Malang dalam Pemberdayaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Berbasis Potensi Wilayah”, ia berhasil menyelesaikan program Master tepat waktu, bahkan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S-2 FISIP UNAIR dengan IPK 3.79.

Penelitiannya melewati masa-masa cukup berat. Diantara penyebabnya saat ibunda tercinta meninggal dunia, pada saat itu Dani sedang melakukan penelitian. Laki-laki kelahiran Malang ini kaget bukan alang-kepalang karena ibundanya meninggal terkesan mendadak.

“Beliau tidak berpesan banyak, sehingga saya benar-benar terpukul. Saya sampai menghentikan dan tidak mempedulikan penelitian. Selama sekitar tiga bulan, padahal deadline kelulusan sudah di ambang pintu,” katanya.

Ditanyai tips dan trik mendapatkan nilai terbaik? Laki-laki yang pernah menjabat guru multimedia ini mengaku tidak punya trik khusus. Ia hanya melakukan semua pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik. Jika belum paham tidak segan bertanya atau cari solusi dari mana saja. Baginya, yang tidak kalah penting adalah doa, berbuat baik kepada orang lain, dan minta doa kepada siapa saja.

”Saya sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan IPK seperti itu. Lha wong saya juga tidak mengejar IPK. Target saya bagaimana bisa menuntaskan belajar ini tepat waktu dan lancar. Itu saja. Hasilnya saya pasrah sama Allah SWT. Jadi saya terkejut ketika mengetahui mendapat IPK tertinggi,” tambah Dani.

Peraih beasiswa dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI ini berpesan, berapapun ilmu yang dimiliki, sekiranya bermanfaat, amalkan. Baginya, jika tidak memiliki ilmu atau harta yang cukup, tenaga pun bisa disumbangkan.

”Yang penting bagaimana keberadaan kita bisa membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Alangkah menyedihkan ketika kita ada, dianggap tidak ada, apalagi jika keberadaan kita justru menimbulkan petaka bagi orang-orang di sekitar kita,” pungkasnya mengakhiri. (*)

Penulis: Ainul Fitriyah

Editor: Nuri Hermawan