Universitas Airlangga Official Website

Biologi dan Ekologi Habitat Alami Lobster di Teluk Gerupuk

Foto oleh cimioutdoored.org

Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor larva lobster untuk tujuan budidaya. Larva lobster banyak ditangkap dari beberapa wilayah pesisir selatan Indonesia, seperti di Lampung, Sumatera; Pangandaran, Jawa Barat; Teluk Tawang dan Kili-Kili, Jawa Timur dan Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat (NTB). Beberapa penelitian melaporkan status penangkapan larva lobster di daerah penangkapan ikan tersebut, seperti di Teluk Awang, NTB pada Tahun 2016 melebihi status penangkapan maksimum yang diizinkan (maximum sustainable yield, MSY). Hal ini disebabkan oleh tingkat penangkapan benih lobster di perairan laut yang relatif  kecil (<0,1%). Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini telah melarang nelayan untuk menangkap atau memperdagangkan larva lobster. Namun, karena permintaan larva lobster yang terus meningkat, lobster ditangkap secara ilegal. Fakta bahwa larva lobster belum dapat diproduksi secara artifisial atau dibudidayakan dapat memperburuk ketersediaan lobster di alam dan dapat menyebabkan kepunahan pada masa mendatang.

Tingginya permintaan benih lobster telah mendorong adanya penelitian tentang produksi benih dalam sistem budidaya. Namun, tantangan yang tersisa masih dalam menentukan pakan hidup yang sesuai dan kondisi lingkungan pada tahap awal kehidupan. Dengan demikian, penelitian ini menyelidiki habitat pemukiman alami larva lobster sebagai informasi dasar untuk mengembangkan diet dan kondisi pemeliharaan dalam sistem dalam ruangan. Salah satu habitat alami ditemukannya larva lobster yang paling banyak di Indonesia, ditunjukkan dengan tingkat penangkapan yang tinggi, maka dipilihlah Teluk Gerupuk yang terletak di Nusa Tenggara Barat dipilih sebagai daerah penelitian. Parameter fisika, kimia dan biologi diuji untuk mendapatkan profil habitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teluk Gerupuk memiliki kedalaman air 18 – 30 m, kecerahan 5 – 6 m, dasar berpasir dan berbatu, suhu 27 – 31°C, arus 0,1 – 0,2 m.s-1, oksigen terlarut 5 – 6 mg/L, nitrat < 0,01 mg/L, konsentrasi klorofil 0,4 – 0,6 mg/m3 dan salinitas 30 – 34 unit salinitas praktis (PSU). Selanjutnya, penelitian ini menemukan setidaknya 16 spesies zooplankton dan 25 spesies fitoplankton pada kedalaman air 0 – 5 m. Spesies zooplankton yang mendominasi adalah Echinocamptus hiemalis elongates (90 individu/L) di permukaan air (0 – 0,3 m), diikuti oleh Tortanus derjugan (20 individu/L) pada ketinggian 2,5 m dan Oithona sp. dengan 46 individu/L pada kedalaman 5 m. Sedangkan fitoplankton yang paling dominan adalah Oscilatoria sp. (9 individu/L) di permukaan air, diikuti oleh Rhizosolenia sp. (4 indvidu/L) pada kedalaman 2,5 m dan Favella ehrenbergii (13 individu/L).

Penulis: Muhamad Amin, Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga

Sumber: Amin, M., Harlyan, L. I., Khamad, K., & Diantari, R. 2022. Profiling the natural settlement habitat of spiny lobster, Panulirus spp. to determine potential die. Biodiversitas, Volume 23, Number 6, 2022, Pages: 2893-2898.

Link: https://www.smujo.id/biodiv/article/view/10791