Universitas Airlangga Official Website

Bisnis Walet Milik Alumnus UNAIR Juarai Pitching Internasional

M Fairuzzudin Zuhair, Maulana Satria Aji, dan M Taufiqul Yakin, founder Lentera Alam Nusantara Markas Walet, yang menangkan kompetisi pitching internasional di NUS (Foto: Istimewa)
M Fairuzzudin Zuhair, Maulana Satria Aji, dan M Taufiqul Yakin, founder Lentera Alam Nusantara Markas Walet, yang menangkan kompetisi pitching internasional di NUS (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kembangkan bisnis Markas Walet, tiga alumnus Universitas Airlangga (UNAIR) memenangkan pitching bisnis di kancah internasional. Mereka adalah M Fairuzzuddin Zuhair, selaku CEO Lentera Alam Nusantara atau Markas Walet, Maulana Satria Aji, serta M Taufiqul Yakin yang juga merupakan founder. Mereka berhasil meraih prestasi membanggakan sebagai presenter terbaik dalam kompetisi pitching di National University of Singapore (NUS) Maret lalu. 

Fairuz mewakili tim menerangkan, Markas Walet merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan agroteknologi. Khususnya di bidang ekosistem sarang burung walet. “Kami bergerak di bidang manufaktur dan agroteknologi, utamanya pada ekosistem sarang burung walet. Kami mengelola agar sarang burung walet bisa lebih optimal dan berkualitas serta kuantitasnya lebih tinggi,” ujar M Fairuzzuddin Zuhair kepada UNAIR NEWS, Senin (2/4/2024). 

Lebih lanjut, Fairuz juga menjelaskan bisnis Markas Walet menjadi peluang yang sangat besar. Pasalnya, riset budidaya walet sendiri masih cukup minimum sehingga belum terdapat pegangan khusus dalam mengoptimalkan pengelolaan ekosistem sarang burung walet. “Selama ini mereka kebanyakan berpatokan pada mitos seperti ‘katanya-katanya’. Padahal untuk meningkatkan kuantitas itu bukan hanya aspek mistis saja tapi ada aspek scientific lain,” terangnya. 

Fairuz dan tim saat melakukan presentasi (Foto: Istimewa)

Fairuz mengatakan, peluang pasar yang besar itu menjadi alasan kuat tim mengangkat bisnis Markas Walet. Menurutnya, pendidikan dalam pengelolaan ekosistem sarang burung walet perlu dikembangkan. Terlebih, berdasarkan data dari pertanian Indonesia mempunyai ratusan ribu rumah burung walet, namun hanya sekitar tiga ribu yang sudah bisa dipertanggungjawabkan ketertelurusannya. “Jadi, kita perlu untuk meningkatkan keregistrasian rumah burung walet itu sendiri agar kuota ekspor yang disetujui negara tujuan bisa lebih tinggi,” imbuhnya. 

Dalam mengembangkan bisnisnya ini, Fairuz dan tim juga turut mengintegrasikan artificial intelligence dalam sistem pengelolaan sarang burung walet. Hal ini menjadikan bisnisnya sebagai satu-satunya perusahaan markas walet yang sudah dikembangkan di Indonesia. Fairuz dan tim juga melihat market size dari sarang burung walet yang tergolong tinggi. “Jadi memang marketnya sangat besar dan permintaannya setiap tahun naik kira-kira 10-15 persen,” katanya.

Terkait target pasar, pihaknya berencana untuk memasuki pasar Cina. Upaya lebih lanjut yang ia lakukan dalam mengelola bisnis Markas Walet sendiri adalah dengan menyatukan pandangan dan kontribusi setiap founder serta fokus pada peluang bisnis ini. 

“Mungkin untuk tim BPBRIN Inkubator start-Up, we need to look and capture with our helicopter view we don’t need to look at short term our bisnis journey. Dengan cara pandang helikopter tadi kita bisa menilai sejauh mana potensi bisnis kita. Hal itu bisa kita prediksi dengan cara berperan aktif dan upgrade ilmu di kancah nasional maupun internasional,” pungkasnya. 

Sebagai tambahan, Fairuz juga pernah memenangkan ajang LPDP Business Growth Plan 2023 lalu. Berkat prestasi itu, Fairuz berkesempatan mengikuti short course di Singapura dan puncaknya adalah pada program pitching ini.

Penulis: Rosita

Editor: Yulia Rohmawati