Operasi sering kali menyebabkan kerusakan jaringan dan peradangan, yang kemudian memicu timbulnya rasa nyeri. Asosiasi Internasional untuk Studi Nyeri (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial. Manajemen nyeri dianggap sebagai hak asasi manusia yang mendasar oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan IASP. Namun, laporan dari Institut Kesehatan Nasional AS pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa lebih dari 80% pasien bedah mengalami nyeri pascaoperasi, dengan kurang dari 50% di antaranya menerima pengelolaan nyeri yang memadai. Selain itu, nyeri pascaoperasi yang menetap memengaruhi sekitar 2-10% pasien bedah dewasa, yang setara dengan jutaan individu di seluruh dunia.
Pengelolaan nyeri pascaoperasi yang tidak memadai dapat menyebabkan komplikasi, pemulihan yang lama, nyeri kronis, dan kualitas hidup yang menurun. Sebaliknya, pengelolaan nyeri yang efektif telah dikaitkan dengan masa tinggal di rumah sakit yang lebih singkat, biaya perawatan kesehatan yang lebih rendah, dan peningkatan kepuasan pasien. Blok epidural telah lama digunakan sebagai teknik yang umum untuk manajemen nyeri pascaoperasi. Penelitian sebelumnya menyoroti manfaatnya, termasuk pengurangan morbiditas kardiovaskular, paru, dan gastrointestinal, serta penurunan angka mortalitas. Selama bertahun-tahun, blok epidural dianggap sebagai standar emas dalam manajemen nyeri pascaoperasi. Namun, studi terbaru menunjukkan hasil yang beragam, beberapa mengindikasikan penurunan morbiditas, sementara yang lain menunjukkan peningkatan. Selain itu, risiko komplikasi neurologis yang terkait dengan blok epidural ternyata lebih tinggi dari yang sebelumnya diyakini, termasuk hematoma neuroaksial, abses epidural, hematoma epidural, bahkan kematian.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik komparatif untuk menganalisis perbedaan efek analgesik antara blok quadratus lumborum (QLB) dan blok epidural (EB) pada operasi uterus di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya. Operasi dilakukan dengan anestesi umum atau regional. Agen anestesi yang digunakan adalah ropivakain atau bupivakain dengan dosis yang dibutuhkan 0,2-0,4 ml/kg untuk larutan ropivakain 0,2-0,5% atau bupivakain 0,1-0,25% pada setiap sisi. Teknik anestesi regional, yaitu blok quadratus lumborum dan blok epidural, melibatkan pemberian anestesi lokal di ruang epidural atau sekitar otot quadratus lumborum untuk mencapai tingkat blok tertentu yang memberikan efek anestesi dan analgesik.
Populasi penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi uterus di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, pada tahun 2023, menggunakan anestesi umum atau regional. Sampel terdiri dari pasien yang menjalani operasi uterus di rumah sakit tersebut pada tahun 2023 dan memenuhi kriteria inklusi, bersedia menjadi subjek penelitian, serta tidak memenuhi kriteria eksklusi. Kriteria inklusi meliputi pasien yang menjalani operasi uterus dengan anestesi umum atau regional, mendapatkan terapi analgesik pascaoperasi dengan blok epidural atau blok quadratus lumborum, dan menerima terapi analgesik pascaoperasi dengan infus parasetamol dengan dosis 20 mg/kg berat badan setiap 8 jam. Subjek penelitian juga diharuskan bersedia berpartisipasi dan mampu membaca serta memahami bahasa Indonesia.
Penelitian ini melibatkan 32 pasien yang menjalani operasi uterus di Rumah Sakit Dr. Soetomo, dengan usia rata-rata 43,6 tahun dan indeks massa tubuh (IMT) rata-rata 27,2. Dari hasil pengukuran skala numerik nyeri (NRS), 90,6% pasien mengalami nyeri ringan (NRS 1-3), sementara 9,4% pasien melaporkan nyeri sedang (NRS 4-7). Sebanyak 50% pasien menerima blok epidural, sementara 50% lainnya menerima blok quadratus lumborum sebagai metode analgesik. Penggunaan opioid sebagai tambahan analgesik hanya dilakukan pada 9,4% pasien. Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam skor NRS antara kelompok blok epidural dan blok quadratus lumborum (p > 0,05). Namun, uji Chi-square menunjukkan perbedaan signifikan dalam penggunaan opioid antara pasien yang membutuhkan tambahan analgesik opioid dan yang tidak (p < 0,001).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik blok epidural maupun blok quadratus lumborum memberikan efek analgesik yang setara dalam mengelola nyeri pascaoperasi pada pasien operasi uterus. Meskipun blok epidural telah lama dianggap sebagai standar emas untuk manajemen nyeri, teknik blok quadratus lumborum yang lebih baru terbukti menawarkan cakupan analgesik yang lebih luas dengan durasi yang lebih lama dan risiko efek samping yang lebih rendah. Penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa penggunaan opioid sebagai analgesik tambahan secara signifikan memengaruhi tingkat nyeri yang dirasakan pasien. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan metode analgesik yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan kondisi klinis.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam skor nyeri (NRS) antara metode blok epidural dan blok quadratus lumborum pada pasien operasi uterus. Kedua teknik tersebut memberikan tingkat efektivitas analgesik yang sebanding. Selain itu, tidak ada perbedaan signifikan dalam kebutuhan penggunaan opioid di antara kedua kelompok. Dengan demikian, blok quadratus lumborum dapat menjadi alternatif yang layak untuk blok epidural, khususnya pada pasien yang membutuhkan cakupan analgesik yang luas dan durasi yang lebih lama dengan efek samping minimal.
Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono W., dr., SpAn-TI., Subsp. An.R(K)., Subsp. TI(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Usamah U, Sumartono C, Fitriati M, Wirabuana B, Tjokroprawiro BA. Comparative analysis of lumbar quadratus lumborum block and epidural block for analgesia in uterine surgery at Dr. Soetomo Hospital, Surabaya. J Med Life. 2023;16(11):1707–13.





