DI era digital, upaya branding atau penguatan citra perguruan tinggi, dimensinya menjadi luas. Baik offline maupun online. Baik turun langsung untuk berkiprah di masyarakat, maupun melalui kegencaran “berkampanye” di dunia maya. Semua porsinya sama. Sama-sama mesti diperhatikan sekuat tenaga. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah membuat disparitas interaksi masyarakat di dunia nyata dan maya begitu tipis.
Mungkin tidak semua masyarakat melek internet. Namun semua kampus tetap mesti bermain lihai di ranah ini. Pasar mereka tidak hanya yang “buta” internet. Perguruan tinggi bukan sekadar mesin pembabat kebutaan macam itu. Sebaliknya, pendidikan tinggi harus menjadi garda terdepan untuk segala kemajuan teknologi.
Terlebih, upaya branding melalui dunia maya menjadi salah satu ujung tombak pemeringkatan di level dunia. Sebut saja salah satunya webometrics. Dari namanya saja, sudah jelas kalau pemeringkatan ini bersandar pada elemen website.
Setidaknya ada empat parameter website yang diukur oleh sentra perankingan ini. Yaitu, excellence atau jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi perguruan tinggi. Presence atau jumlah halaman website (html) dan halaman dinamik yang tertangkap mesin pencari. Impact atau jumlah eksternal link unik yang diterima oleh domain web universitas yang tertangkap mesin pencari. Openness atau jumlah file yang online di bawah website universitas.
Tentu, penjelasan secara rinci dan detail tentang parameter di atas butuh space yang tidak sebatas satu artikel koran. Tetapi paling tidak, dapat tergambar secara umum kalau terobosan pengelolaan website merupakan keniscayaan bagi kampus. Khususnya yang ingin mengejar ranking webometrics.
Universitas Airlangga (UNAIR) mengendus isu ini. Melalui Pusat Informasi dan Humas (PIH), kampus yang berdiri sejak 1954 ini tampak ingin membenahi official website. Apa yang jadi sasaran utama? Rubrik news.
Perubahannya cukup radikal. PIH membuat struktur informal bernama newsroom. Pekerjaannya mirip dengan kantor berita professional pada umumnya. Ada tiga platform: website, edisi cetak (majalah), dan radio. Namun, yang dirombak secara habis-habisan di sini adalah lini online. Memang tidak se-euforia dan “sekapitalis” industri portal pada berita komersial. Minimal, ada kultur yang dipegang: harus ada berita baru setiap hari.
Sejak akhir Desember 2015, saat domain news.unair.ac.id diluncurkan, minimal ada update berita tiga kali sehari. Bahkan, bisa sampai enam update. Data terakhir hingga 31 Desember 2016, setidaknya ada lebih dari 1.560 update berita per tahun, dengan rata-rata sekitar 130 berita per bulan. Kabarnya, sudah ada dua kampus swasta besar dan dua perguruan tinggi negeri yang ingin studi banding ke UNAIR, sang pemilik 14 fakultas dan satu sekolah pasca sarjana ini.
Berita dari kampus tidak akan habis. Apalagi sekelas UNAIR. Kalau ditanya, apa manfaat update banyak berita saban hari? Tentu bisa dijawab dengan mengaitkannya pada parameter webometrics di atas. Memang tidak semua poin berhubungan dengan rubrik news, namun update yang dimaksud setidaknya bisa mendongkrak pada parameter presence dan impact.
Baiklah, webometrics tidak selalu menarik untuk dijadikan perspektif bagus tidaknya suatu kampus. Orang bisa saja mengklaim, perankingan tidak selamanya objektif dan bisa luput menjajaki semua elemen. Tapi paling tidak, dari segi branding, penguatan rubric news cukup representatif. Syaratnya, mesti tersinergi dengan jejaring sosial official kampus yang lain, misalnya facebook, twitter, instagram, dan lain sebagainya.
Yang terpenting, semua jejaring sosial juga harus dikelola dengan baik. Upaya share, tagging, mention, dan “penjangkauan” yang tepat sasaran menjadi kunci. Penjangkauan yang dimaksud, termasuk di dalamnya, koneksifitas pada akun para alumni dan pemangku kepentingan: akademisi kampus lain, dunia bisnis, dan pemerintah.
Pada aspek tersebut, strategi media sosial amat diperlukan. Kapabilitas tentang optimalisasi interaksi berperan sentral. Percuma bila produksi berita lancar, tapi sosialisasi, promosi dan gembar-gembor di media sosial (yang mewakili dunia maya) dibiarkan minim.
Kalau sejumlah langkah maksimalisasi tadi sudah bergerak, branding kampus di dunia maya boleh dikata sudah berjalan. Tinggal menjaga konsistensi. Berbicara soal branding, tolok ukurnya bukan lagi perankingan, melainkan kepuasaan karena telah mempopulerkan atau menjaga popularitas kampus. Paling tidak, netizen menilai, kampus tersebut selalu membuat berita dan tersebar di dunia maya. Kepuasan tersebut sudah berada jauh dari aspek ukuran ranking.
Analoginya mungkin sama seperti yang dilakukan Sufyan Ats-Tsauri, ulama zuhud kelahiran Kufah, yang selalu konsisten beribadah pada Tuhan. Apa yang dilakukannya hanya untuk kepuasaan dan kebahagiaan batin. Sama sekali bukan untuk diukur atau diranking oleh orang lain. Dia selalu bercengkerama dengan sesama. Tetapi, itu dianggapnya ibadah tanpa mengharap pujian, dan tak peduli hujatan.
Branding yang brilian dan sukses akan membuat kampus menjadi puas dan bahagia. Bisa berinteraksi secara maksimal dengan dunia luar merupakan pencapaian yang abstrak di atas kertas. Meskipun dinamika dan fluktuasi website selalu bisa diukur dengan statistik, hal itu tidak selalu menjadi yang utama. (*)
Editor: Bambang Bes





