Universitas Airlangga Official Website

Budaya Terburu-buru, Realistis Bagi Produktivitas?

Anggi Mayangsari, M Psi, Psikolog, dalam pemaparannya tentang hustle culture (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Kondisi kemajuan era menuntut setiap elemen masyarakat untuk terus berkarya, menghasilkan suatu hal positif yang kebergunaannya tidak hanya untuk diri masyarakat itu sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Lantas, hal tersebut membuat manusia melahirkan suatu pandangan yang menganggap bahwa keberhasilan hanya akan dapat mereka raih jika mereka bekerja terlalu keras dan dengan kapasitas maksimal.

“Ini disebut hustle culture, fokusnya pada energi sebanyak mungkin yang dikeluarkan dengan waktu selama mungkin yang kita bisa lakukan dalam melakukan pekerjaan,” terang Anggi Mayangsari, M Psi, Psikolog, narasumber dalam webinar Pharmacare X Dialogue di bawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga pada Minggu (30/10/2022).

Menurut Anggi, prinsip pemikiran orang dengan hustle culture biasanya berputar dalam tiga hal, yaitu kesuksesan, produktif, dan FOMO (fear of missing out). Anggi menyayangkan bahwa orang-orang ini menstandarisasi kesuksesan orang lain sebagai patokan hidup mereka.

Pada sesi tanya jawab, Anggi juga mengungkap alasan seseorang dapat memiliki pandangan terburu-buru ini, yaitu karena mereka belum menemukan standard untuk diri sendiri sehingga caranya mengevaluasi diri sendiri adalah melalui keberhasilan orang lain.

“Coba sekarang, ekspektasinya adalah dari diri kita ke diri sendiri aja. Artinya, apa yang menurut kita, kalau kita mencapai hal ini, maka kita hebat, terlepas dari apa yang orang lain capai?” saran Anggi.

Dalam hubungannya dengan kesehatan, Anggi juga menyatakan bahwa hustle culture yang parah dapat menyebabkan seseorang memiliki gangguan kesehatan mental maupun fisik karena tekanan dari diri sendiri. Bahkan tidak jarang, Anggi mendengar seseorang yang masih terus kelelahan meskipun telah beristirahat.

Dibanding hustle culture, Anggi juga memperkenalkan suatu budaya lain yang menurutnya jauh lebih baik, yaitu work-life balance. “Mengapa ini lebih baik dan penting? Karena dengan budaya ini, kita lebih dapat bekerja secara efisien dan efektif, tapi tetap dapat menjaga kesehatan dengan baik serta tidak lupa untuk memiliki batasan antara pekerjaan dengan kehidupan personal,” pungkasnya.

Penulis: Leivina Ariani Sugiharto Putri

Editor: Nuri Hermawan