Universitas Airlangga Official Website

Bukan Cuma Baca Tulis, Mentoring Lipres Ungkap Strategi Berpikir Kritis

Mentoring Lipres 7.0 bertajuk Strategi Efektif Mengembangkan Literasi dan Berpikir Kritis dalam Riset dan Keilmuan berlangsung, Sabtu (31/5/2025). (Foto: Istimewa).
Mentoring Lipres 7.0 bertajuk Strategi Efektif Mengembangkan Literasi dan Berpikir Kritis dalam Riset dan Keilmuan berlangsung, Sabtu (31/5/2025). (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Di tengah kemajuan teknologi informasi, kemampuan memilah dan memahami data secara kritis menjadi tantangan tersendiri. Dua aspek, literasi dan berpikir kritis kian menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dinamika tersebut.

Untuk itu, mentoring Lingkar Prestasi (Lipres) 7.0 hadir mengangkat tema Strategi Efektif Mengembangkan Literasi dan Berpikir Kritis dalam Riset dan Keilmuan. Kegiatan itu sukses terselenggara secara daring melalui Google Meet pada Sabtu (31/5/2025). Peserta kegiatan merupakan pengurus BSO Lingkar Prestasi (Lipres) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR). 

M. Rofiqi Azmi S Farm yang merupakan wisudawan berprestasi sekaligus peraih medali emas PKM-RE PIMNAS 36 menekankan pentingnya literasi sebagai dasar kemampuan individu di era modern ini. “Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana seseorang dapat mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup,” jelas Rofiqi. 

Ia menambahkan bahwa kemampuan literasi yang baik akan membuat mahasiswa terhindar dari hoaks dan ujaran kebencian, sekaligus mendorong empati sosial serta kolaborasi. Literasi yang kuat, lanjutnya, menjadi fondasi mula dalam berpikir kritis. 

Dalam pemaparannya, Rofiqi juga menjelaskan bahwa berpikir kritis melibatkan proses reflektif, independen, dan rasional dalam menilai suatu informasi. Ciri-cirinya antara lain kemampuan menganalisis, membedakan fakta dan opini, dan menyusun kesimpulan berdasarkan data.

“Literasi adalah sumbernya, sedangkan berpikir kritis adalah cara mengolah dan menyimpulkannya. Hubungan ini linier dan saling menguatkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rofiqi membagikan tips bahwa kemampuan tersebut bisa diasah melalui berbagai cara. Seperti, membaca jurnal, menulis esai atau opini ilmiah, berdiskusi dalam webinar, hingga mengikuti lomba-lomba keilmiahan. Beberapa ajang yang juga ia rekomendasikan antara lain Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN), Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), debat ilmiah, serta program Business Plan dan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). 

Rofiqi menyebut, tidak hanya meningkatkan daya nalar, keterampilan literasi dan berpikir kritis juga memberikan manfaat nyata dalam dunia perkuliahan dan persiapan karir. Seperti, memudahkan penyusunan skripsi, meningkatkan produktivitas akademik, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan di dunia kerja.

Mentoring Lipres 7.0 ditutup dengan sesi latihan dalam menentukan judul penelitian dan strategi mengikuti lomba keilmiahan. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan bagi masyarakat.

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Khefti Al Mawalia