Universitas Airlangga Official Website

Bukan Menambah Konsumsi Makan, Ini Tips Lancar Jalani Puasa Ramadan bagi Penderita Maag

Dokter Rima Dwi Yanantika membagikan tips puasa bagi penderita penyakit maag (Foto: SS Streaming JawaPos TV).

UNAIR NEWS – JawaPos TV melangsungkan siaran langsung dengan mengundang dokter klinik Pusat Layanan Kesehatan Universitas Airlangga (PLK UNAIR), Rima Dwi Yanantika dr, pada Sabtu (23/04/2022) pagi. Masih bersama suasana Ramadhan, tim JawaPos TV mengusung tema “Tips Berpuasa pada Penderita Maag” dalam siaran langsung tersebut. 

Dokter Rima memaparkan penggolongan penyakit maag sebagai pembukaan siaran. Ia menjelaskan bahwa ada banyak macam penyakit lambung, salah satunya dispepsia yang awam diterima oleh telinga masyarakat sebagai penyakit maag. Dispepsia, lanjutnya, kemudian dibagi lagi menjadi dua, yakni fungsional yang menyerang fungsi dan struktural yang menyerang struktur atau organ.

Nah, jadi yang fungsional ini justru ternyata membaik (penyakitnya, red) dengan berpuasa karena dengan berpuasa kita mendapatkan jadwal makan yang fiks. Dan pencernaan kita juga istirahat dalam rentang waktu tertentu,” terang Dokter Rima.

Penyakit maag yang umum, jelasnya, ditandai dengan nyeri di ulu hati, kembung, mual, atau bahkan rasa terbakar di ulu hati ini. Hal tersebut, sambungnya, dominan diderita oleh seseorang dengan usia produktif serta disebabkan oleh pola makan tidak teratur, jenis makanan dan minuman yang tidak sesuai, pola hidup, dan stres.

Lebih lanjut, Dokter Rima juga mendedahkan tips berpuasa bagi penderita dispepsia fungsional, yang paling utama adalah bahwa ketika sahur, harus ada rehidrasi cairan agar tidak mengalami dehidrasi serta proses konsumsi makanan harus dilakukan secara perlahan-lahan dan dalam jumlah yang wajar. Tips dari Dokter Rima selanjutnya adalah dengan mengonsumsi makanan tinggi serat ketika sahur agar lambung bisa terisi lebih lama.

Selain itu, terutama setelah sahur, Dokter Rima juga mengimbau agar tidak tidur dengan posisi terlentang karena akan menyebabkan arus balik ke saluran cerna yang lebih atas. “Solusinya adalah mungkin kita bisa ganjal dengan tumpukan bantal. Jadi, posisi bahu dan kepala kita lebih tinggi daripada perut kita,” ujarnya.

Dalam berbuka puasa, Dokter Rima juga memegang prinsip yang sama seperti sahur. “Bisa berbuka dengan minuman hangat, makanan ringan, lalu di jeda salat Maghrib dulu, baru kita ke makanan utama,” jelasnya.

Dokter Rima kemudian kembali menyinggung terkait penyakit dispepsia struktural yang kemungkinan tidak bisa menjalankan ibadah puasa secara sempurna. Ia mengungkap bahwa sebelum berpuasa, penderita dispepsia struktural harus meminta diagnosis dokter bersangkutan untuk mengetahui apakah ia dapat turut menjalankan ibadah puasa atau tidak.

Dalam penutupnya, Dokter Rima kembali menekankan bahwa ada beberapa hal yang harus diingat. “Diperhatikan faktor-faktor pencetus yang meningkatkan asam lambung, misalnya makanan bersantan, berminyak, pedas, asam, gorengan, dan juga minuman bersoda, hati-hati,” pesannya.

Penulis: Leivina Ariani Sugiharto Putri 

Editor : Nuri Hermawan