Menurut Hippocrates, hemorhoid berasal dari kata Yunani, haema (darah) dan rhoos (mengalir) karena gejala khas pendarahan dari anus. Di Indonesia, hemorhoid lebih dikenal dengan wasir atau ambeien. Prevalensi wasir diperkirakan 4 sampai 55% dari populasi, tanpa perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hemorhoid ini tampak sebagai pembengkakan yang terjadi pada vena pada rectum atau anus yang menimbulkan rasa sakit dan gatal saat defekasi. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya perdarahan. Namun karena rasa malu, pasien cenderung meredakan gejalanya dengan pengobatan sendiri dengan obat bebas (OTC) atau obat tradisional walaupun penyakit ini sangat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya.
Terapi hemorhoid kronis memerlukan intervensi medis intensif dan dapat menyebabkan kerugian sosial ekonomi. Hingga saat ini, pasien terus mencari pengobatan penyembuhan yang lebih baik, baik metode bedah maupun non bedah untuk menyeimbangkan kenyamanan pasien, komplikasi pasca operasi, nyeri, dan tingkat kekambuhan.
Berbagai terapi hemorhoid menggunakan nutrisi dan ekstrak tumbuhan telah menunjukkan hasil yang signifikan. Beberapa ekstrak tumbuhan yang mengandung senyawa anti-inflamasi dan antioksidan memiliki potensi untuk terapi hemoroid dan juga telah terbukti meningkatkan tonus pembuluh darah, aliran kapiler, memperkuat jaringan ikat, dan mikrosirkulasi pembuluh darah perifer. Ekstrak tumbuhan ini digunakan dalam berbagai bentuk, baik secara oral maupun topikal, namun hanya sedikit tumbuhan yang telah diteliti secara ilmiah.
Berbagai pengobatan ambeien baik dengan obat oral maupun topikal telah dikenal hingga saat ini secara tradisional maupun modern. Secara umum, obat-obatan ini dimaksudkan untuk meredakan gejala wasir, tetapi sayangnya, dalam banyak kasus, mereka tidak berhasil. Kombinasi obat oral dan topikal bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan wasir, menghindari operasi invasif.
Graptophyllum pictum (L.) Griff. adalah spesies dari famili Acanthaceae yang dikenal sebagai “handeuleum” di Jawa Barat dan “Daun Ungu” di Indonesia. Daun Ungu ini secara tradisional telah digunakan secara turun temurun untuk mengobati hemorhoid. Data ilmiah juga telah membuktikan kemampuan analgesik dan antiinflamasi, peningkatan fagositosis dan pembentukan imunoglobulin serta peningkatan aktivitas pada jalur klasik aktivitas komplemen dan kemoatraktan. Kandungan kimia Daun Ungu yang telah diketahui adalah minyak atsiri seperti fitol (75,7%), n-nonacosane (6,5%) dan hexahydrofarnesyl acetone (2,6%) dan zat kimia lainnya seperti myricetin dan kaempferol, alkaloid, glikosida, steroid, saponin, tanin, kalsium oksalat).
Stres oksidatif oleh spesies oksigen reaktif (ROS) berkontribusi pada inisiasi dan perkembangan berbagai penyakit, termasuk wasir. Oleh karena itu, jumlah antioksidan yang cukup sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan anorektal. Ekstrak etanol Daun Ungu mengandung senyawa flavonoid (16,3 ± 0,79 mg/g HE) dan senyawa fenolik (428,3 ± 18,01 mg/g GAE) yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan aktivitas antioksidan yang potensial dengan nilai IC50 sebesar 143,0 ± 1,04 g/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak Daun Ungu mengandung komponen kimia yang menguntungkan untuk mengurangi stres oksidatif pada jaringan hemoroid.
Aktivitas astringen terkait dengan sifat hemostatik dalam aspek vasokonstriksi dan pembekuan darah sehingga diperkirakan dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan yang seringkali terjadi pada penderita hemorhoid. Selain itu, ekstrak Daun Ungu mampu menurunkan waktu rekalsifikasi plasma (PRT), yang merupakan parameter penting dari pembekuan darah. Parameter pengujian efektifitas ini didasarkan pada gejala hemorhoid seperti perdarahan, gatal, dan nyeri akibat tinja yang keras, sehingga sifat astringency dan aktivitas GPLE terkait hemostasis juga ditentukan.
Daun Ungu secara tradisional digunakan untuk mengobati wasir di Indonesia. Namun, bukti ilmiah yang cukup belum dilaporkan sejauh ini. Untuk meningkatkan efektifitas terapi hemorhoid menggunakan Daun Ungu maka ekstrak Daun Ungu dibuat dalam bentuk oral dan topikal. Untuk dapat menimbulkan kondisi hemorhoid digunakan minyak kroton sebagai induktor yang dioleskan pada rektal tikus karena minyak kroton memiliki sifat iritasi yang kuat di kulit dan mukosa. Obat pembanding yang digunakan adalah betametason. Parameter histologis pada daerah anus, seperti ketebalan mukosa dan otot eksternal, jumlah sel inflamasi, area perdarahan, dan jumlah sel nekrotik.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak Daun Ungu dalam bentuk sediaan topikal dan oral secara signifikan mengurangi gejala ini sebanding dengan kontrol positif, betametason. Pengujian ini juga membuktikan bahwa terapi kombinasi oral dan topical dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan penggunakan oral atau topikal saja. Pengujian efektifitas sangat mendukung penggunaan etnomedisinal Daun Ungu untuk pengobatan hemorhoid. Ekstrak Daun Ungu yang mengandung berbagai senyawa termasuk flavonoid dan polifenol, yang dapat secara langsung atau sinergis mengatur ekspresi dan fungsi mediator inflamasi ini.
Penulis: Dr. Idha Kusumawati, S.Si, M.Si.
Link Jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34688799/





