Tak ada yang menyangkal kelezatan daging Solen vagina atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lorjuk baik sebagai hidangan utama maupun sebagai campuran dalam berbagai camilan. Moluska kecil ini penuh gizi ini memang menjadi favorit banyak orang, terutama bagi mereka yang tinggal di dekat pantai. Sayangnya, tingginya konsumsi Lorjuk ternyata menimbulkan masalah lingkungan, yaitu penumpukan limbah cangkang Lorjuk di tepi pantai. Kami mengamati bahwa potensi limbah cangkang di pesisir pantai di jawa timur dapat mencapai 156 ton per tahun. Padahal cangkang Lorjuk ini berpotensi untuk menjadi biosorbent, yang dapat menyerap limbah logam berat yang ada di laut. Logam berat ini disinyalir dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan salah satunya penyakit itai itai. Hal inilah yang mendorong kami untuk meneliti lebih lanjut tentang potensi cangkang Lorjuk sebagai bisorben logam Cu2+, Cd2+, dan Pb2+. Kami bertujuan membangdingkan kemampuan penyerapan terhadap ketiga logam berat tersebut, baik dalam bentuk serbuk mentah maupun dalam bentuk chitosan yang diturunkan dari cangkan Lorjuk
Sampel cangkang Lorjuk kami peroleh dari beberapa daerah pesisir di Jawa Timur. Kemudian sampel ini dideterminasi di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Pencucian dilakukan dengan air panas, setelah itu dikeringkan, digiling dan diayak sehinga diperoleh serbuk canngkang Lorjuk dengan ukuran tertentu. Untuk memperoleh chitosan, terlebih dahulu serbunk cangkang Lorjuk dihilangkan proteinnya, kemudian dilakukan reaksi deasetilasi. Identifikasi chitosan yang diperoleh, dilakukan dengan spektroskopi FT-IR. Karakteristik fisikakimia diukur menurut ketentuan Badan Standardisasi Indonesia yang terdiri dari kandungan abu, kandungan air, pH, persen hasil, dan derajat deasetilasi. Setelah itu kami melakukan identifikasi komponen unsur dalam chitosan dengan menggunakan XRF (X-Ray Fluoresence) Analysis.
Setelah rangkaian analisis kulaitatif, kami melakukan verifikasi metode penetapan kadar Cu2+, Cd2+, dan Pb2+ menggunakan Atomic Absorbtion Spectroscopy (AAS). Parameter verifikasi meliputi selektifitas, batas deteksi, batas kuantifikasi, akurasi dan presesi. Hasilnya menunjukkan bahwa metode analisis yang kami gunakan memenuhi semua persyaratan. Sebelum menentukan kapasitas absorbansi logam Cu2+, Cd2+, dan Pb2+, terlebih dahulu kami menentukan kadar logam berat Cu2+, Cd2+, dan Pb2+ baik pada serbuk maupun chitosan. Kami mendapati bahwa tidak ada logam Cd2+ dan Pb2+. Akan tetapi Cu2+ ada dalam serbuk mentah cangkang Lorjuk yang kemudian hilang saat isolasi chitosan.
Penentuan proses bio-absorption dilakukan dua kali dengan kolom gelas. Bio-absorben baik serbuk mentah cangkang Lorjuk maupun chitosan yang diturunkan dari cangkang Lorjuk dimasukkan dalam kolom gelas. Kemudian, sembari keran kolom ditutup masing larutan logam berat Cu2+, Cd2+, dan Pb2+ dengan kadar sekitar 10 µg/L dimasukkan dan dibiarkan selama 30 menit. Kemudian keran dibuka, dan kadar masing-masing logam ditentukan dengan AAS. Untuk penentuan bio-absorbsi yang kedua dilakukan meode yang sama, menggunakan biosorben bekas dari elusi pertama. Hasil yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam rumus untuk mendapatkan persen dan kapasitas absorbsi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa serbuk mentah Lorjuk dapat menyerap lebih dari 92% logam berat yang diuji baik untuk elusi pertama dan kedua. Sedangkan chitosan yang diturunkan dari Lorjuk mampu menyerap Cu2+sebesar 97% pada elusi pertama dan kedua, Cd2+ sebesar 99% pada elusi pertama dan 94% pada elusi kedua, serta 100% Pb2+ pada serapan pertama. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa cangkang Lorjuk baik sebagai serbuk mentah maupun yang sudah diderivatisasi menjadi chitosan, dapat digunakan sebagai alternatif biosorben yang murah.
Lebih detail tentang penelitian ini dapat diakses pada Journal of Ecological Engineering. 2021; 22(7):212–222 dengan judul An Eco-Friendly Absorption Method of Cu2+, Cd2+, and Pb2+ Using the Shells and Chitosan Derived from Solen vagina.





