Universitas Airlangga Official Website

Cegah Stunting dengan Pangan Lokal: Nugget Ikan Lemuru sebagai MP-ASI oleh BBK 7 UNAIR di Desa Kradenan

Mahasiswa BBK-7 Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan demonstrasi memasak nugget ikan lemuru sebagai olahan MP-ASI berbasis pangan lokal di Balai Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Dok. Tim)

UNAIR NEWS – Mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan program Stunting Berdaya di Balai Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, pada Jumat (23/01/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga usia balita.

Kegiatan diikuti oleh ibu hamil, ibu balita, serta kader posyandu Desa Kradenan dan diawali dengan kelas ibu hamil yang merupakan program rutin desa. Pada sesi edukasi, Kelvin dan Aninda Ayu, mahasiswa dari program studi kesehatan, menyampaikan materi mengenai stunting dengan menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai MP-ASI yang bergizi dan terjangkau.

Kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi memasak nugget ikan lemuru yang dipandu oleh Salma dan Sherly, mahasiswa BBK 7 UNAIR. Salma menjelaskan tahapan pengolahan nugget ikan lemuru mulai dari persiapan bahan hingga proses memasak, serta tips agar kandungan gizi tetap terjaga.

Pemilihan ikan lemuru didasarkan pada kandungan gizinya yang tinggi, khususnya protein dan asam lemak omega-3 yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini disampaikan oleh Musthofa dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, yang menekankan bahwa ikan lemuru berpotensi sebagai menu MP-ASI berbasis pangan lokal.

Sembari proses memasak berlangsung, peserta dibagikan brosur RECEH (Resep Enak Cegah Stunting Ekonomis Hemat) yang berisi menu sederhana dan bergizi, seperti nugget ikan lemuru dan bolu kukus ubi ungu. Di akhir kegiatan, peserta juga menerima hasil olahan serta dilakukan penyerahan poster edukasi pencegahan stunting kepada pihak Balai Desa Kradenan sebagai media edukasi berkelanjutan.

Aisya, Person in Charge kegiatan, menyampaikan bahwa program ini dirancang agar mudah diterapkan. “Kami ingin para ibu tidak hanya memahami stunting, tetapi juga bisa mempraktikkan menu sehat di rumah,” ujarnya. Sherly menambahkan, “Edukasi akan lebih efektif jika disertai praktik langsung.”

Program Stunting Berdaya ini mendukung SDG 2 (Zero Hunger) dan SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya edukasi gizi dan pencegahan stunting sejak 1000 HPK.

Penulis: Mahasiswa BBK 7 Desa Kradenan, Banyuwangi