Universitas Airlangga Official Website

Ciptakan Aplikasi Diagnostik Penyakit Tropis, Tim Idinoda UNAIR Raih Juara 3 Internasional

Potret Tim Idinoda bersama karya inovatif mereka, TropiScan: AI-Based Tropical Disease Diagnostic Application with Tele-Referral System (Foto : Narasumber)
Potret Tim Idinoda bersama karya inovatif mereka, TropiScan: AI-Based Tropical Disease Diagnostic Application with Tele-Referral System (Foto : Narasumber)

UNAIR NEWS– Tiga mahasiswa Teknik Biomedis kembali mengharumkan nama UNAIR melalui prestasi membanggakan di BIEPC 2025. Tim yang menamakan diri mereka “Idinoda”, beranggotakan Deva Cantika, Aldi Rohmat Akbar, dan Priya Novitasari Dwi Yanti, berhasil meraih Juara 3 Internasional melalui karya inovatif bertajuk “TropiScan: AI-Based Tropical Disease Diagnostic Application with Tele-Referral System.”

Ajang Biomedical Internasional Essay and Poster Competition (BIEPC) merupakan kompetisi inovasi biomedis bergengsi. Ajang ini terselenggara dalam rangka memperingati Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Teknik Biomedis (HMBM) ITERA 2025. Kegiatan ini mengusung tema besar “Shaping Technology for Future Health Care,”. Tema tersebut merefleksikan mahasiswa untuk berperan aktif dalam membentuk masa depan layanan kesehatan yang lebih modern, adaptif, dan berbasis teknologi.

Dari Keprihatinan Hingga Inovasi

“Ide TropiScan lahir dari keprihatinan kami terhadap keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah yang membuat diagnosis penyakit tropis sering terlambat. Kami ingin menghadirkan teknologi yang bisa mempercepat deteksi sekaligus menghubungkan pasien dengan tenaga medis secara daring,” ujar Deva Cantika selaku perwakilan tim.

TropiScan hadir sebagai aplikasi diagnostik cerdas berbasis AI yang mampu menganalisis gejala umum. Berbagai gejala tersebut seperti demam, batuk, ruam, atau kelelahan, lalu memberikan hasil diagnosis awal penyakit tropis secara cepat dan akurat. Aplikasi ini juga lengkap dengan menu diagnostik interaktif, di mana pengguna dapat mengisi gejala yang mereka rasakan sesuai kondisi mereka. Hasil analisis tampil secara real time, memberikan gambaran langsung mengenai kemungkinan penyakit yang dialami.

Tidak hanya itu, fitur Tele-Referral System memudahkan pengguna untuk langsung mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. Sementara itu. Doctor Notification & Monitoring memungkinkan dokter memantau kondisi pasien secara langsung. Aplikasi ini juga terdapat fitur pemeriksaan rutin tanpa gejala, serta pesan langsung dengan dokter, menjadikannya solusi menyeluruh untuk layanan kesehatan digital.

Proses Panjang dan Tantangan

Sebelum menentukan topik akhir, tim Idinoda sempat berhadapan pada dua ide besar yakni aplikasi diagnosa penyakit tropis dan alat pendeteksi narkoba non-invasif berbasis keringat. Melalui proses panjang yang melibatkan riset literatur, diskusi dengan dosen, dan berbagai revisi konsep, mereka akhirnya memutuskan membawa ide deteksi narkoba untuk lomba esai, dan menjadikan TropiScan sebagai karya poster ilmiah.

Walau tidak membawa pulang kemenangan dari lomba esai yang mereka ikuti dengan ide alat pendeteksi narkoba, semangat dan kerja keras tim terbayar lunas dengan capaian internasional dari karya TropiScan.

“Kami sempat gugup dan kelelahan menjelang lomba, tapi begitu nama TropiScan diumumkan sebagai Juara 3 Internasional, rasanya semua perjuangan terbayar. Ini bukti bahwa kolaborasi dan niat baik untuk memberi manfaat bisa membawa hasil luar biasa,” tambah Deva Cantika.

Prestasi ini menjadi bukti nyata semangat inovasi mahasiswa Teknik Biomedis dalam menghadirkan solusi nyata berbasis teknologi kesehatan untuk tantangan global. Lebih khusus, di bidang penyakit tropis yang relevan dengan kondisi Indonesia.

Penulis : Saffana Raisa Rahmania

Editor   : Ragil Kukuh Imanto