UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga kembali menggelar Connect The Dots pada Minggu (12/11/2023). Gelar wicara nasional edisi 4.0 yang berlangsung di Bento Kopi Surabaya itu mendapatkan antusiasme besar dari ratusan peserta yang hadir.
Sejumlah narasumber ternama hadir dalam gelaran bertajuk Peran Mahasiswa sebagai Akselerator Indonesia Emas 2045 itu. Satu di antara pembicara yang paling menarik perhatian peserta adalah Pengamat Sosial dan Politik Drs Rocky Gerung.
Harus Banyak Berbenah
Untuk mengawal Indonesia Emas 2045, menurut pria kelahiran Manado itu Indonesia harus banyak berbenah. Masa depan negara tergantung pada generasi muda, sedangkan tidak semua generasi muda dapat menjanjikan masa depan negara imbas segala permasalahannya.
“IQ nasional kita tertinggal 78, bandingkan dengan Singapura 115 dan Taiwan 105. Apa yang mau kita tahu di 2045 kalau input per hari negatif? Selain itu, ada 15 juta anak muda mengalami gangguan mental dan tidak bahagia. 15 juta pemuda Indonesia mengalami dis-orientasi mental karena tidak punya harapan masa depan,” terangnya.

Faktanya, keadaan ini seolah luput dari pandangan pemerintah. Banyak generasi muda yang tidak mencapai kebahagiaan dan berakhir di jalanan. Ia juga menyayangkan bahwa pembangunan infrastruktur berjalan besar-besaran, tetapi kontras dengan kediaman masyarakatnya.
“Kita punya jalan tol tapi yang nonton jalan tol mereka yang rumahnya reot, sedangkan kebahagiaan itu datang mulai dari rumah. Kita butuh rumah dengan suasananya, bukan sekadar bangunan.”
Turut Suarakan Keresahan
Lebih lanjut, ia menyoroti kebiasaan saat Indonesia berada di tahun politik, seluruh wilayah akan penuh dengan spanduk dan juga baliho. Kebiasaan tersebut tetap berlangsung hingga saat ini bahkan saat Indonesia sudah melek pada era digital.
“Hari ini ada kurang lebih 1,5 juta baliho terpasang di sepanjang pulau Jawa. Buat apa era digital, tapi masih pakai baliho. Demi apa wajah seorang pemuda terpampang dari Anyer-Panarukan. Ngapain? Toh di dalam ponsel kalian, kalian tahu siapa ia dan apa isi otaknya,” ujarnya.
Untuk kesuksesan meraih Indonesia Emas 2045, ia menekankan bahwa masa depan Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada wajah dalam baliho. Ia mengajak seluruh mahasiswa dan semua generasi muda untuk bersama-sama belajar dari tahun-tahun sebelumnya dan tidak hanya termakan janji pilkada.
“Masa depan kita tidak boleh berdasarkan wajah yang ada di baliho, tetapi hasil dari perundingan akal sehat, ide, dan juga maksud kemuliaan umum. Kita ingin semua hal yang menjadi keresahan anak muda terucapkan di ruang publik, bukan putusan di kantor-kantor lembaga survei, kepala desa, kecamatan, dan polres,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad badrul Anwar
Editor: Nuri Hermawan





