UNAIR NEWS – Ketidakpastian iklim yang kini terjadi menjadi fenomena yang patut diwaspadai sebab berpotensi menyebabkan berbagai bencana seperti banjir hingga angin puting beliung yang tidak bisa diprediksi. Upaya mitigasi untuk menghadapi bencana hidrometeorologi tersebut menjadi bahasan dalam Webinar Pelatihan 1 Mawacana pada Jumat (13/6/2025). Kegiatan yang dilakukan secara daring melalui Zoom Meeting itu diselenggarakan oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) BEM FKM UNAIR yang bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya.
Bencana Hidrometeorologi
Pembicara dari BPBD Kota Surabaya, Joko Siswanto, mengartikan bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang disebabkan oleh faktor air dan cuaca. Di antaranya, banjir, kekeringan, badai, hujan es, atau angin puting beliung. Ia menuturkan bahwa bencana ini sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, perubahan suhu, dan lain sebagainya.
“Perubahan musim di tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, bulan Mei dan Juni sudah masuk musim kemarau. Tetapi sampai bulan Juni ini masih ada potensi hujan yang cukup signifikan,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa efek perubahan musim tersebut membuat cuaca sulit untuk diprediksi. Akibatnya, potensi ancaman bencana hidrometeorologi semakin sulit diprediksi pula.
Upaya Mitigasi
Ketika bencana sulit diprediksi, maka upaya terbaik yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan upaya mitigasi untuk memperkecil dampak suatu bencana. Joko menyebutkan bahwa upaya mitigasi di tiap daerah berbeda-beda tergantung potensi ancaman bencana di daerah itu.
Salah satu bencana yang sering menjadi ancaman di Kota Surabaya adalah banjir. Joko mengatakan bahwa upaya mitigasi banjir telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu. Salah satunya adalah teknologi early warning system, hasil kolaborasi dengan Teknik Elektro dan Teknik Sipil.
Teknologi tersebut dapat digunakan sebagai upaya monitoring tinggi muka air sungai. Ketika tinggi air sungai mengalami perubahan signifikan atau mencapai batas yang telah ditentukan maka alat itu akan mengirimkan notifikasi kepada BPBD Kota Surabaya melalui aplikasi website.
“Alat itu sudah dipasang di Kali Lamong Kelurahan Sumberejo Kecamatan Pakal Surabaya,” tukasnya.
Tidak hanya itu, Kota Surabaya sendiri telah menginisiasi upaya pengurangan risiko berbasis komunitas. Joko menerangkan bahwa di masyarakat telah dilakukan pembagian tugas masing-masing. “Sudah dibagi siapa melakukan apa, jadi ketika terjadi bencana masyarakat tidak lagi berdiam diri menunggu bantuan,” ucapnya.
Menurutnya, masyarakat harus dibentuk pola pikirnya agar mereka paham bahwa mereka juga memiliki andil dalam meminimalisir dampak bencana. Salah satunya adalah memfasilitasi masyarakat untuk menyusun perencanaan di wilayah mereka masing-masing.
“Masyarakatlah yang paling tahu wilayah mereka bukan BPBD atau pihak lainnya. Jadi, kita tidak bisa memaksakan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari kita untuk diterapkan di wilayah mereka. Maka harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” tegasnya.
Penulis: Septy Dwi Bahari Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





