Asteraceae merupakan salah satu famili tumbuhan angiosperma terbesar, terdiri dari 26.000 spesies. Daun seribu (Achillea millefolium L.) merupakan tanaman dari famili Asteraceae yang memiliki potensi dalam bidang medis. Daun seribu tersebar luas di daerah beriklim belahan bumi utara di Asia dan Eropa dan Amerika Utara. Daun seribu dibudidayakan, biasanya sebagai tanaman hias, di daerah pegunungan di beberapa bagian Malesia (misalnya secara lokal di Filipina dan Jawa), dan dinaturalisasi secara lokal di sana. Tumbuh liar atau dinaturalisasi di Indo-China. Tanaman ini telah digunakan sebagai obat herbal sejak zaman Yunani kuno, dalam pengobatan Eropa, dan digunakan oleh penduduk asli Amerika. Penelitian lain menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dan antibakteri dalam minyak atsiri pada tanaman genus Achillea.
Metabolit sekunder pada tumbuhan terletak secara eksplisit pada bagian tertentu. Sebagian besar spesies yang termasuk dalam genus Achilea telah dilaporkan mengandung flavonoid. Misalnya, pada Achillea sintenisii, senyawa fenolik ditemukan di bagian udara, sedangkan Dusman et al. (2013) melaporkan bahwa ekstrak daun Daun seribu mengandung senyawa flavonoid dan fenolik. Yasin dkk. (2017) menyatakan bahwa kandungan fenol pada daun A. millefolium lebih besar dari pada batangnya. Perbedaan habitat tumbuh dapat menyebabkan variasi jumlah kandungan metabolit sekunder pada tanaman. Salomo dkk. (2021) melaporkan bahwa Achilea atrata yang ditanam menggunakan kultur buatan dengan yang hidup di habitat alami memiliki perbedaan senyawa kimia yang dikandungnya, meskipun dalam kadar yang kecil. Achillea aromaticissima yang hidup di dua wilayah berbeda di Arab Saudi juga mengandung senyawa kimia yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan studi anatomi untuk memahami keberadaan dan lokasi sel yang memproduksi dan menyimpan metabolit sekunder.
Kajian anatomi tumbuhan juga dapat digunakan untuk identifikasi, seperti penelitian yang dilakukan oleh Rahman et al. (2013) yang mengungkapkan bahwa 36 spesies famili Asteraceae yang ditemukan di Rajshahi dapat dibedakan berdasarkan jenis stoma, letak stomata, dan jenis trikoma. Kajian anatomi daun seribu yang ada saat ini dinilai belum lengkap karena belum menjelaskan seluruh bagian tumbuhan. Setiap spesies dari genus Achille memiliki ciri khas yang membedakannya dengan yang lain, misalnya 4 spesies dari genus Achilea yang ditemukan di wilayah barat Ukraina memiliki ciri khasnya masing-masing, terutama pada perbungaan, batang, dan daun. Genus Achillea yang sama mungkin memiliki morfologi yang berbeda jika hidup di tempat yang berbeda, seperti Achillea aceratifolia yang terbatas di semenanjung Balkan dibagi menjadi 3 varietas/subspesies karena perbedaan habitat dan geografi.
Karakteristik anatomi penting untuk identifikasi spesies yang memiliki kepentingan farmakologis terlebih lagi karakter morfologi memberikan karakteristik yang dapat dengan mudah digunakan untuk identifikasi. Namun, identifikasi morfologi memiliki banyak kelemahan, penelitian kontemporer menunjukkan bahwa identifikasi menggunakan penanda morfologi sangat tergantung pada kondisi lingkungan dan dapat mengakibatkan variasi perawakan di lingkungan yang berbeda, hal ini dapat menyebabkan ketidakpastian identifikasi pada tingkat spesies. Penanda morfologi dapat gagal untuk membedakan spesies dan menutupi keberadaan spesies samar atau membedakan spesies yang berbeda sementara pada kenyataannya hanya ada satu. Berdasarkan Sofiyanti dkk. (2016) dan Harsono dkk. (2016), sebelum identifikasi berbasis DNA sering digunakan, masyarakat umum telah mengidentifikasi tanaman berdasarkan penanda morfologi.
Untuk mengatasi ambiguitas atau miskonsepsi dalam identifikasi spesies, dapat digunakan barcoding DNA penanda molekuler. DNA barcoding adalah metode identifikasi spesies menggunakan sekuens gen pendek dari genom organisme. Kelompok Kerja Pabrik CBOL telah mengusulkan penggunaan 2 penanda molekuler plastid, seperti rbcL (ribulose-1,5-bifosfat karboksilase) dan matK (maturase K) sebagai barcode standar.
Identifikasi tumbuhan akan menimbulkan kesimpulan yang ambigu jika hanya dilihat dari penanda morfologinya, sehingga diperlukan data pendukung lainnya seperti anatomi dan identifikasi berbasis DNA karena proses ini dianggap sangat penting untuk memahami mekanisme biologis yang ada pada tumbuhan. Pada akhirnya, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara komprehensif berdasarkan morfologi, anatomi, dan penanda DNA pada tanaman daun seribu. Penyelidikan ini diharapkan dapat menambah wawasan penting karena daun seribu telah menjadi komoditas jamu dan produk obat.
Studi morfologi secara deskriptif menunjukkan bahwa tanaman memiliki akar tunggang, batang pendek karena roset akar dan daun majemuk ganda. Jaringan rimpang dan batang memiliki struktur yang hampir sama, sedangkan daun memiliki susunan jaringan yang mirip dengan tumbuhan lain pada umumnya, hanya saja jaringan mesofilnya tidak berdiferensiasi. Hasil DNA barcoding menunjukkan persentase identitas di atas 98% baik untuk gen rbcL maupun matK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali daun seribu.
Penulis: Dwi Kusuma Wahyuni, S.Si., M.Si.





