Universitas Airlangga Official Website

Daur Ulang Minyak Jelantah Berbasis SDGs, Strategi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Desa Kebonagung oleh mahasiswa UNAIR

UNAIR NEWS – Sebagai upaya mengatasi limbah rumah tangga, sebuah pelatihan inovatif dalam pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah sukses digelar di Desa Kebonagung. Kegiatan yang diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu warga desa ini berlangsung pada tanggal 24 dan 26 Januari 2026, bertempat di TK Al Amanah dan KB Anugrah Dusun Dawar, Desa Kebonagung, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Pelatihan ini secara langsung mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan dan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Kegiatannya adalah mengedukasi warga, terutama ibu-ibu, mengenai dampak buruk pembuangan minyak jelantah sembarangan yang dapat mencemari tanah dan saluran air. Masyarakat diajak untuk mengumpulkan dan menjernihkan minyak bekas pakai tersebut sebagai bahan baku utama. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang tahap pengumpulan dan penjernihan minyak jelantah, tetapi juga diajarkan cara mengolahnya menjadi lilin aromaterapi yang bernilai guna dan ekonomis. “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi solusi sederhana namun berdampak nyata, sehingga minyak jelantah yang selama ini dibuang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual,” ujar Ichwan yang merupakan penanggung jawab satu dari program kerja jelantas. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan.

Manfaat yang diharapkan dari pelatihan ini adalah berkurangnya pencemaran lingkungan di tingkat dusun hingga desa, meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang daur ulang kreatif, serta terbukanya peluang untuk menciptakan produk rumah tangga yang dapat meningkatkan nilai ekonomi keluarga. Inovasi ini menjadi langkah awal yang inspiratif menuju masyarakat yang lebih mandiri dan peduli lingkungan.

Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya serta mencoba langsung setiap tahapan pembuatan lilin, mulai dari proses penyaringan minyak jelantah, pencampuran bahan, hingga pencetakan lilin ke dalam wadah. Beberapa ibu bahkan menyampaikan ketertarikan untuk mengembangkan variasi bentuk dan aroma lilin agar memiliki daya tarik lebih tinggi. “Kami ingin masyarakat tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi mampu menerapkan dan melanjutkan praktik pengolahan minyak jelantah secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Aulia yang merupakan penanggung jawab dua dari program kerja jelantas. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi sederhana yang berbasis potensi lokal mampu memicu kreativitas serta semangat kewirausahaan di kalangan masyarakat desa.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang berkelanjutan antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam upaya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi tidak hanya memberikan solusi atas permasalahan lingkungan, tetapi juga membuka wawasan baru bahwa limbah rumah tangga dapat diolah menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual. Dengan keberlanjutan program semacam ini, Desa Kebonagung diharapkan dapat menjadi contoh desa yang inovatif, mandiri, serta peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Penulis: BBK 7 Desa Kebonagung