Universitas Airlangga Official Website

Departemen Bahasa Sastra Inggris Gelar Guest Lecture, Hadirkan Visual Anthropologist Disney

UNAIR NEWS – Departemen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Konsulat Jenderal United State America (USA) menggelar guest lecture bertajuk Community Storytelling and Digital Media Production pada Senin (13/11/2023). Acara itu berlangsung di Ruang Majapahit, Gedung ASEEC, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Menariknya, acara itu mengundang seorang profesor asal California State University Stanislaus sekaligus visual anthropologist dari film Raya and The Last Dragon (2021), Prof Dr Steve Arounsack.

Acara itu dimoderatori oleh Rina Saraswati M Hum selaku PJMK mata kuliah Creative Writing. Dalam opening remark-nya, Rina mengungkapkan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk memberipengayaan informasi dan pengetahuan di balik penulisan naskah film, kepada mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, khususnya bagi yang mengambil mata kuliah Creative Writing.

Sementara itu, Prof Arounsack menceritakan rekam jejak karirnya sebagai seorang visual anthropologist hingga terlibat dalam industri pembuatan film hollywood, Raya and The Last Dragon (2021). Berangkat dari latar belakang keluarga kurang mampu yang tinggal di kawasan pengungsi (Laos) selama puluhan tahun, Arounsack muda memiliki mimpi besar untuk mengangkat cerita tentang budaya masyarakat di negara ASEAN.

Sebagai kawasan yang kaya sumberdaya, baik alam maupun budayanya, Asia Tenggara menjadi kawasan yang kaya inspirasi bagi industri film Hollywood–khususnya Disney–untuk mengenalkan kisah dan nilai budaya luhur masyarakatnya kepada dunia.

“Film Raya and Last Dragon merupakan awal mula pembelajaran saya dan tim selama proses pembuatannya. Kami semua berasal dari Asia tenggara sebagai negara yang kurang terwakili. Kemudian, kami berkolaborasi untuk membagikan tradisi dan budaya kami di dunia,” ujar Prof Arounsack.

Meskipun Prof Arounsack besar di Asia Tenggara, ia tidak mengetahui sepenuhnya mengenai sejarah dan art style dari budaya di negara tersebut. Sehingga, dalam proses pembuatan film Prof Arounsack dibantu oleh para konsultan yang memberikan masukan mengenai seni, cerita, dan tradisi.

Menurutnya, film itu akan memberikan kehidupan pada budaya dan melekat pada orang-orang, yang dimana tidak dapat diperoleh dengan membaca buku atau melihat gambar saja.

Lebih lanjut, visual anthropologist dari Raya and Last Dragon itu menjelaskan bahwa mitos naga yang direpresentasikan dalam karya filmnya memiliki perbedaan makna dengan versi barat. Menariknya, film ini juga mengangkat sosok ‘hero’ baru atau panutan generasi muda yang mewakili budaya-budaya timur–khususnya Asia Tenggara. Sehingga, hal inilah yang membedakan film ini dari animasi disney lainnya, seperti Mulan atau Elsa di Frozen.

Di akhir sesi, Rina memetik pelajaran dari perjalanan seorang Steve Arounsack. Ia mengasumsikan bahwa cerita besar dimulai dari kisah perjalanan pribadi individu yang memiliki big dream and be passionate with a purpose.

Penulis: Aidatul Fitriyah

Editor: Khefti Al Mawalia