Universitas Airlangga Official Website

Dilema Konsumsi Pemanis: Menakar Dampak dan Bahaya Gula pada Tubuh

(Kiri) Dr Waode Fifin Ervina Muslihi dan Dr Willy Sandhika dr M Si Sp PA (K) (kanan) saat memberi pemaparan dalam Airlangga Forum (Foto: Tangkapan Layar YouTube)
(Kiri) Dr Waode Fifin Ervina Muslihi dan Dr Willy Sandhika dr M Si Sp PA (K) (kanan) saat memberi pemaparan dalam Airlangga Forum (Foto: Tangkapan Layar YouTube)

UNAIR NEWS – Berbincang tentang pemanis yang memiliki banyak efek, Airlangga Forum Sekolah Pascasarjana hadirkan Dr Willy Sandhika dr MSi SpPA(K) dan Dr Waode Fifin Ervina Muslihi SGz, MImun. Acara tersebut berlangsung secara daring pada Jumat (20/6/2025) dengan judul Efek Pemanis yang Tidak Manis. Willy menjelaskan rasa manis bisa dihasilkan baik oleh gula maupun konsumsi pemanis non-gula. “Jika berbicara tentang gula, maka akan berhubungan dengan diabetes. Sedangkan produk pemanis non-gula berhubungan dengan sistem imun,” ungkapnya. 

Menurut Willy dari segi imunologi, gula bisa menjadi kawan dan bisa menjadi lawan. “Jika peruntukannya adalah pada orang yang kekurangan kalori, gizi buruk, gula bisa menjadi teman. Bagi yang sudah berlebihan akan menimbulkan berbagai macam penyakit,” jelasnya. 

Takaran konsumsi pemanis juga tergantung pada siapa yang mengonsumsinya. “Jika masih anak-anak, bagus memakan gula. Jika sudah tua seharusnya diet bebas gula. Tetapi perlu ditekankan bahwa diet bebas gula artinya juga tanpa pemanis buatan,” ujarnya. 

Willy menekankan bahwa pemanis buatan hanya memberikan rasa manis tanpa kalori di dalamnya sehingga tidak memiliki nilai gizi. Ia juga mengatakan bahwa sebagian pemanis buatan sudah melalui BPOM namun yang beredar seringkali adalah pemanis buatan yang tidak terdaftar. 

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pemanis buatan tersebut bisa memicu autoimun. “Sistem imun didesain untuk menyerang virus, bakteri dari luar. Namun, ada kalanya sistem imun menyerang tubuh sendiri, pemanis buatan bisa memicu autoimun. Untuk itu hindari pemanis buatan,” jelasnya. 

Sementara itu, Fifin dalam pemaparannya menjelaskan sulit menakar pemanis yang masuk ke tubuh. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa pemanis buatan sudah sangat menjamur di masyarakat. Hal tersebut merupakan hal yang mengkhawatirkan. 

Ia mengatakan bahwa untuk menghindari pemanis buatan maka diperlukan tanggung jawab diri sendiri. “Kita harus melek akan minuman serta makanan yang kita konsumsi, pemanis buatan bisa dilihat pada komposisi yang ada pada label. Namun terkadang tidak mencantumkan kadarnya,” ungkapnya. 

Ia juga mengungkapkan bahwa pemanis buatan 200 kali lipat manisnya daripada gula biasa. “Kadar pemanis buatan yang terlalu tinggi bisa mengganggu bakteri baik yang ada pada pencernaan sehingga akan menyebabkan radang,” ungkapnya

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sistem imun paling banyak diproduksi dalam usus. Sehingga jika produksi sistem imun terganggu yang terjadi adalah akan datang banyak penyakit. “Penyakit seperti autoimun, cancer, diabetes biasanya berawal dari sistem imun yang terganggu,” katanya. 

Penulis: Rizma Elyza

Editor: Yulia Rohmawati