Disfungsi ereksi (DE) merupakan salah satu komplikasi serius namun kerap tersembunyi dari diabetes melitus tipe 2 (DMT2) pada pria. Meskipun kerap diabaikan, DE bukan hanya soal kehidupan seksual—kondisi ini juga berfungsi sebagai penanda awal dari penyakit kardiovaskular, yang dapat menurunkan kualitas hidup, memperpendek harapan hidup, hingga menyebabkan kematian dini pada pria. Beban kesehatan ini akan semakin berat bagi keluarga yang menggantungkan penghasilan utama pada pria, sebagai akibat kegagalan mereka menjalankan peran sebagai pencari nafkah, meningkatkan tekanan psikologis dan sosial yang berlipat.
Dalam sebuah systematic review, disfungsi ereksi (DE) diidentifikasi sebagai penanda absolut dari gangguan vaskuler (pembuluh darah) yang bersifat progresif, yang berarti penderitanya memiliki kemungkinan 40% lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. DE bisa terjadi dalam tahun pertama setelah seseorang didiagnosis menderita diabetes. Sayangnya, meski dampaknya signifikan, perhatian terhadap masalah ini masih minim—terutama dalam layanan kesehatan dasar seperti di Puskesmas. Di Indonesia, data prevalensi DE pada pria dengan DMT2 masih sangat terbatas. Namun, satu studi lokal menemukan bahwa 84,4% pria yang berobat untuk DMT2 di Puskesmas mengalami DE, angka yang seharusnya menjadi peringatan keras bagi sistem kesehatan kita.
Tidak hanya terhadap kondisi psikologis penderitanya, DE dapat merusak keintiman pasangan, dan bahkan mendorong mereka ke kecenderungan perilaku kekerasan terhadap pasangan dan anak, dan pencarian pengobatan tanpa pengetahuan yang cukup, dan meningkatkan risiko kesehatan yang buruk. Studi kami yang terdahulu telah mengungkap fakta ini. Bahkan studi-studi lain telah mengkonfirmasi temuan kami dan menambahkan bahwa perilaku-perilaku berisiko tersebut telah memperburuk manajemen DMT2, dan memperparah kondisi kesehatan pria penderitanya. Oleh karena itu, skrining DE secara dini sangat diperlukan dalam pengelolaan DMT2 yang komprehensif. Sejumlah penelitian internasional pun telah merekomendasikan agar layanan primer melakukan skrining ini sebagai bagian dari standar perawatan. Sayangnya, praktik ini belum banyak diterapkan.
Puskesmas dan Panduan Nasional: Antara idealisme dan realita
Sistem kesehatan nasional Indonesia sebenarnya telah mengakomodir keterkaitan di antara DMT2, ED dan komplikasi kardiovaskular. Hal ini tercermin dalam berbagai regulasi, seperti Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015, yang mengatur standar penanganan DMT2 di layanan primer, termasuk di Puskesmas.
Lebih lanjut, Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/603/2020 yang diterbitkan pada pertengahan tahun 2020 bahkan secara eksplisit menambahkan pentingnya skrining DE pada pasien pria dengan diabetes. Namun, dalam praktiknya, skrining ini masih jarang dilakukan. Salah satu tantangan besar adalah kecenderungan pasien pria untuk menutupi atau enggan mengungkapkan keluhan terkait fungsi seksual mereka. Akibatnya, aspek kesehatan seksual sering kali luput dari perhatian tenaga kesehatan, meski tercantum dalam panduan resmi.
Namun, bagaimana kenyataannya di lapangan?
Sebuah studi kualitatif terbaru mengungkap bahwa masih banyak tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas yang tidak menyadari bahwa skrining DE merupakan bagian yang direkomendasikan dalam pedoman nasional DMT2. Para dokter dan perawat merasa tidak nyaman membahas topik ini karena kurangnya pelatihan, pengetahuan, dan kepercayaan diri jika harus melakukannya. Temuan ini konsisten dengan studi serupa di negara-negara kawasan Asia Tenggara, Eropa Timur, Mediterania dan Afrika Selatan. Akibatnya, ED—yang seharusnya bisa menjadi pintu masuk penting dalam upaya mitigasi komplikasi medis, psikososial, kesejahteraan keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas—malah terabaikan.
Peran Perawat: Harapan dan hambatan
Dalam konteks Puskesmas, perawat menjadi ujung tombak pelayanan primer. Mereka melakukan asesmen awal, mencatat keluhan, dan bahkan melakukan kunjungan rumah untuk mendorong kepatuhan pengobatan pasien DMT2. Di tengah ketimpangan jumlah dokter dan lonjakan kasus penyakit kronis, perawat memegang banyak peranan penting. Tren ini juga terlihat di negara maju seperti Amerika Serikat dan beberapa negara di benua Eropa.
Namun harus diakui, sebagian besar perawat di Indonesia adalah lulusan program diploma tiga. Mereka membutuhkan lebih dari sekedar tambahan tugas dan jenjang pendidikan. Oleh karena itu, perlu strategi yang bijak agar peran tambahan yang akan mereka emban tetap relevan dengan kompetensi dan kapasitas yang dimiliki. Perluasan peran dengan batas tugas yang jelas akan dapat menegaskan peran-peran dan akuntabilitas professional mereka, yang diharapkan dapat menjadi katalis koordinasi pelayanan yang baik di tatanan fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti halnya di Puskesmas.
COVID-19: Pandemi yang menggeser fokus layanan primer
Studi ini dilakukan saat sistem layanan kesehatan Indonesia berada dalam masa pemulihan dari pandemi COVID-19. Saat itu, Puskesmas difokuskan untuk program vaksinasi massal dan pembatasan layanan non-darurat. Karenanya tidak mengejutkan bahwa temuan kami mengindikasikan banyak tenaga kesehatan yang kehilangan fokus terhadap upaya implementasi pedoman nasional DMT2, atau bahkan tidak menyadari keberadaan pedoman tersebut. Mereka kelelahan secara fisik dan emosional, sementara pelatihan dan pembaruan kebijakan menjadi tertunda, bahkan gagal dijalankan.
Meskipun banyak nakes yang memahami potensi terjadinya DE dalam populasi penderita DMT2, tidak sedikit dari mereka yang mengabaikan rekomendasi untuk menanyakan kesehatan seksual pada pasien pria. Banyak yang secara terbuka mengaku enggan menyarankan perubahan pola makan dan aktivitas fisik—dua intervensi penting dalam DE pada pasien diabetes—dengan alasan bahwa intervensi tersebut sulit diterapkan dan sering tidak dipatuhi oleh pasien. Pandangan ini mengindikasikan kurangnya penekanan bahwa intervensi gaya hidup tidak hanya penting untuk mengendalikan glukosa darah, tetapi juga dalam menurunkan potensi DE dan komplikasi lain yang perlu diwaspadai.
Rendahnya implementasi dari intervensi tersebut mencerminkan kurangnya perhatian terhadap dampak T2DM terhadap DE serta komplikasi medis dan sosial yang lebih luas. Temuan ini menegaskan perlunya peningkatan kapasitas nakes (baik kualitas maupun kuantitas) di layanan primer sebagai promotor kesehatan, khususnya dalam mengelola T2DM pada kelompok pria yang cenderung diam.
Mengapa pasien diam, begitu juga tenaga kesehatan?
Satu temuan menarik lainnya adalah adanya ketidaksesuaian antara persepsi nakes dan kebutuhan pasien. Seperti halnya terungkap dalam beberapa penelitian di negara-negara Eropa Timur dan Mediterania, banyak nakes yang merasa bahwa pasien tidak pernah mengeluhkan masalah seksual. Hal ini menimbulkan keengganan di antara para nakes untuk memulai untuk bertanya masalah potensial yang mereka anggap sensitif.
Kenyataannya, studi kami sebelumnya mengungkap bahwa sebagian besar pasien pria dengan DMT2 dan DE sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan dari nakes di Puskesmas. Namun, mereka kerap merasa bingung bagaimana memulai percakapan tentang masalah seksualnya, atau berasumsi bahwa tenaga kesehatan terlalu sibuk dan tidak memiliki cukup waktu untuk menanggapi keluhan yang dianggap sensitif ini. Persepsi tersebut berkontribusi pada munculnya tekanan emosional bagi pasien, serta mendorong mereka untuk mencari solusi alternatif secara mandiri, seperti mengonsumsi obat bebas yang kandungan maupun indikasinya tidak mereka pahami dengan jelas. Situasi ini menunjukkan pentingnya membangun komunikasi yang lebih terbuka dan responsif antara pasien dan tenaga kesehatan, khususnya dalam konteks permasalahan seksual yang masih kerap diselimuti stigma.
Rekomendasi: Perlunya aksi nyata
Studi yang kami lakukan mengungkap adanya kesenjangan besar antara praktik yang direkomendasikan dalam pedoman nasional dan kenyataan yang terjadi di layanan primer. Jika kesetaraan gender dalam perspektif kesehatan memang menjadi salah satu fokus dalam pencapaian Sustainable Development Goals, maka ini adalah saat yang tepat bagi sistem kesehatan kita untuk mengambil empat langkah nyata dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menjalankan rekomendasi tersebut.
Pertama, memperkuat pelatihan dan dukungan kepada tenaga kesehatan agar mampu melaksanakan skrining DE secara dini dan memberikan alternatif solusi yang benar. Kedua, mereorientasi sistem kesehatan untuk membangun pelayanan yang seimbang antara pria dan wanita, mengingat kesehatan pria kerap terpinggirkan dalam perspektif kesehatan masyarakat. Ketiga, mensinkronkan peran dan pembagian tugas antara perawat dan dokter di tingkat layanan primer agar dapat berfungsi sebagai katalis koordinasi pelayanan yang lebih terintegrasi dan kompeten. Keempat, menormalisasi pembahasan tentang kesehatan seksual dalam konsultasi medis sebagai bagian dari pelayanan yang menyeluruh dan manusiawi. Keempat langkah ini dapat membantu meruntuhkan stigma dan anggapan tabu terhadap isu seksual, serta mendorong pendekatan yang lebih terbuka, berempati, dan sistematis. Sudah saatnya kita memperlakukan isu ini dengan keseriusan yang sama seperti penyakit kronis lainnya—membuka ruang dialog, menghapus stigma, dan memulihkan harapan para pasien pria yang selama ini hanya bisa diam dalam cemas.
Penulis: Setho Hadisuyatmana, S.Kep.Ns., M.NS (CommHlth & PC)., Ph.D
Sumber
Hadisuyatmana, S., Malik, G., Efendi, F. et al. Primary healthcare professionals’ awareness of management guidelines for type-2 diabetes mellitus and erectile dysfunction in Indonesia: a focus group discussion during the COVID-19 pandemic. Discov Public Health 22, 201 (2025). https://doi.org/10.1186/s12982-025-00590-x





