n

Universitas Airlangga Official Website

Djoko Kurnijanto: Jangan Ragu Menjadi Bagian dari UNAIR

Djoko
Djoko Kurnijanto, alumnus Akuntansi Universitas Airlangga, saat memberi motivasi di acara Airlangga Education Expo, Minggu (25/2). (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Hidup itu adalah pilihan. Ungkapan itu sekiranya pantas disematkan dalam kisah pencarian Djoko Kurnijanto, alumnus Akuntansi Universitas Airlangga, pasca lulus dari SMA-nya dulu. Memilih salah satu di antara dua hal yang sama-sama penting dan berat bukan perkara yang mudah.

Bagi sebagian besar siswa SMA, kampus favorit yang menunjukkan kepastian masa depan yang baik merupakan impian. Apalagi bisa masuk di lebih dari satu perguruan tinggi yang seperti itu, opsi pilihan bakal kian banyak. Namun, sekali lagi dibutuhkan kematangan dan kemantapan hati yang kuat, tidak gampang.

Diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik di Indonesia, yaitu UNAIR dan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), menuntut Djoko membuat keputusan besar. Keputusan yang menentukan masa depannya kelak.

”Saya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit kala itu. Saya diterima di STAN, bahkan telah mengikuti peloncoan. Tapi kemudian, pada saat yang sama, saya diterima di UNAIR. Terbaik dan terbaik,” ungkapnya saat ditemui UNAIR NEWS setelah menyampaikan inspirasi dalam talk show di Airlangga Education Expo (AEE) 2018, Minggu (25/2).

Djoko Kurnijanto (dua dari kiri) alumnus Akuntansi Universitas Airlangga, saat memberi motivasi di acara Airlangga Education Expo, Minggu (25/2). (Foto: Binti Q. Masruroh)

Meski demikian, menurut Djoko, dalam kondisi yang seperti itu, mengetahui dan mengenali karakter diri bisa dijadikan acuan. Selain itu, menumbuhkan kepercayaan pada pilihan tersebut dengan mengetahui dan menggali informasi yang banyak bisa menjadi pilihan lain.

”Saat itu saya berpikir UNAIR menawarkan sesuatu yang lebih fleksibel. Terutama soal pengembangan kualitas diri. Selain itu, saya saat itu percaya dengan nama besar UNAIR,” imbuhnya. ”Jadi, saya memilih UNAIR,” tambah mahasiswa angkatan 1989 itu.

Kini karir Djoko terbilang moncer. Dia dipercaya menjadi Direktur Internasional OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Capaian itu, ungkap Djoko, terwujud bukan tanpa proses yang mudah. Beberapa program dan kegiatan kampus turut menempanya. Juga, pengalamannya menduduki beberapa posisi dan bidang pekerjaan berbeda-beda, pasca kampus, menuntun hal positif itu bisa diraih.

“Jadi, saat semester delapan, ketika skripsi, saya menyambi. Yakni, dengan bekerja di salah satu kantor akuntan publik. Setelah itu, saya lulus dan bekerja di salah satu bank Jepang. Yakni, Bank Sumitomo. Kemudian, tahun 1996, saya bergabung dengan Bank Indonesia sampai akhir tahun 2015,” jelasnya. ”Dan, pada Januari 2016 saya sepenuhnya bergabung dengan OJK,” tambahnya.

Rasakan Manfaatnya

Djoko mengungkapkan saat menjadi mahasiswa, dirinya merasakan adanya tawaran-tawaran pengembangan diri yang cukup variatif di UNAIR. Bukan hanya yang bersifat akademis, tapi juga non-akademis. Karena itu, Djoko terbilang aktif berorganisasi di kampus.

Jabatan Ketua Hima (Himpunan Mahasiswa) Akuntansi sempat disandangnya kala menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR. Manfaat pengalaman itu, lanjut Djoko, begitu terasa saat memasuki kehidupan pasca kampus.

Karena itu, dalam bincang-bincang di AEE tersebut, Djoko sangat menekankan pentingnya mengasah kemampuan diri. Selain itu, dia berpesan kepada para calon mahasiswa, juga mahasiswa, untuk senantiasa aktif mengembangkan diri. Baik pengembangan hard skill maupun soft skill.

”Sebab, saya penganut the power of knowledge dan kompetensi,” tuturnya. ”Saya merasakan manfaatnya. Ketika saya tidak hanya belajar, tapi juga saya mengikuti kegiatan kemahasiswaan. Ketika saya lulus, saya merasa sudah sangat siap untuk bekerja dan menghadapi orang,” tambah pria berkaca mata tersebut. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Binti Q. Masruroh