n

Universitas Airlangga Official Website

Dokter Anak Tangani Puluhan Kasus Bibir Sumbing di Myanmar

bibir sumbing
Dokter spesialis anak Irwanto ketika mengobservasi pasiennya. (Foto: Dokumentasi pribadi/Irwanto)

UNAIR NEWS – Bekerja sebagai relawan telah menjadi bagian hidup Dr. Irwanto, dr., Sp.A (K). Hatinya tergerak untuk menjadi relawan di negara-negara lain.

Di bulan Februari 2017, ratusan kilometer ditempuh dokter Irwanto demi menjumpai bocah-bocah penderita bibir sumbing di Myanmar. Dengan niatan membantu meringankan penderitaan para bocah di sana, dokter Irwanto tergerak menjadi relawan di negeri orang.

Tanpa pikir panjang, dokter Irwanto memutuskan untuk menerima tawaran jadi relawan kegiatan pengabdian masyarakat berupa operasi bibir sumbing gratis yang didanai oleh Smile Asia dan the Kanbawza’s Bright Future Myanmar Foundation (BFM).

Dokter Irwanto merupakan satu-satunya dokter spesialis anak dari Indonesia yang bergabung bersama yayasan yang menangani anak-anak penderita bibir sumbing. Bersama 30 tenaga medis lainnya, dokter Irwanto bergabung dengan perawat, dokter spesialis bedah, dokter spesialis anestesi dari sejumlah negara seperti Amerika, Tiongkok, Jepang, Korea, Singapura dan Filiphina.

Selama sepekan di sana, mereka menggelar kegiatan pengabdian masyarakat, yakni mengoperasi sebanyak 85 anak penderita bibir sumbing di Women and Children’s Special Hospital in Taunggyi, Shan State, Myanmar. Pasien anak-anak penderita bibir sumbing ini berasal dari ratusan etnik, seperti Shan, Pao, Kayah, Kayan, Larhu, Danu, Palaung, Kachin dan Bamar.

Sebagai dokter anak satu-satunya disana, dokter Irwanto bertugas mempersiapkan kondisi fisik pasien seperti menyaring pasien yang layak dioperasi, sekaligus bertanggung jawab atas proses pengobatan pascaoperasi.

“Awalnya ada lebih dari 100 anak yang terdaftar, namun setelah saya screening, yang layak dilakukan operasi hanya 85 anak,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak semua pasien bibir sumbing siap dioperasi pada saat itu. Ada sejumlah anak yang kondisi hemoglobinnya kurang mencukupi maupun dalam kondisi sakit.

Angka prevalensi bibir sumbing di Myanmar ternyata lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Kasus bibir sumbing terjadi per satu orang setiap 800 hingga 1.000 kelahiran. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi anak bibir sumbing usia 24-59 bulan adalah 0,08 persen dari 0,53 persen anak dengan kelainan bawaan di Indonesia.

Selain di Myanmar, dokter Irwanto memiliki pengalaman lain saat menjadi relawan di di Jepang tahun 2013. Saat itu, pria kelahiran 27 Februari 1967 ini bekerjasama dengan Universitas Kobe mengadakan penyuluhan penanganan korban gempa untuk anak-anak disabilitas.

Menjadi relawan memberinya banyak pengalaman berharga. Salah satu yang berkesan di antaranya adalah menjaga kekompakan dan semangat selama menangani puluhan pasien dalam hitungan hari.

“Cara kerja mereka yang membuat saya terkesan,” ungkapnya.

Penerima penghargaan Global Travel Award oleh Bill and Melinda Gates tahun 2015 bahkan akan menjalani hari-hari sebagai relawan di India pada Desember 2017 mendatang.

“Itu artinya kompetensi kami sebagai dokter Indonesia diakui negara lain. Ini bukan hal yang mudah, karena harus memenuhi kualifikasi yang cukup ketat,” ungkap wisudawan terbaik UNAIR tahun 2013 ini.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S