Universitas Airlangga Official Website

Dosen FIB Sekaligus Ketua FKDM Provinsi Jawa Timur Jelaskan Pentingnya Deteksi Dini Kerawanan Sosial

Dr Listiyon Santoso ketika memberikan sambutan
Dr Listiyon Santoso ketika memberikan sambutan (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi dan Pelatihan Penguatan Kapasitas Pengurus FKDM Kabupaten/Kota se-Jawa Timur di Hotel Aria Centra Surabaya pada Jumat-Minggu (21-23/11/2025). Kegiatan ini menjadi upaya strategis dalam memperkuat jejaring deteksi dini dan respons terhadap berbagai potensi ancaman sosial di Jawa Timur. Peserta yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari pengurus FKDM provinsi, FKDM kabupaten/kota se-Jawa Timur, serta staf Bakesbangpol dari seluruh wilayah.

Acara ini dibuka langsung oleh Ketua Bakesbangpol Jatim Eddy Supriyanto SSTP MPSDM sekaligus sebagai keynote speech. Dalam sambutannya Eddy Supriyanto menegaskan bahwa konflik yang lahir dari kerawanan sosial tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial, dengan sumber yang beragam seperti ekonomi, politik, dan keagamaan.

Dalam sambutannya, Ketua FKDM Provinsi Jawa Timur, Dr Listiyono Santoso SS MHum yang juga merupakan Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UNAIR menegaskan pentingnya penyamaan persepsi dan penguatan koordinasi antarpengurus FKDM di berbagai wilayah. Menurutnya, FKDM merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam melakukan deteksi dini terhadap Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) di masyarakat. “Kerawanan sosial selalu ada, tetapi dapat dicegah sejak dini. Dengan kolaborasi, data yang akurat, dan analisis yang tepat, kita menjaga stabilitas Jawa Timur bersama-sama,” ujarnya.

Suasana Diskusi dalam Rakor dan Pelatihan Penguatan Kapasitas
Suasana Diskusi dalam Rakor dan Pelatihan Penguatan Kapasitas (Foto: Istimewa)

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penguatan koordinasi, tetapi juga menjadi sarana bagi peserta untuk meningkatkan kompetensi teknis dalam membaca dan menganalisis potensi kerawanan. Hal ini sejalan dengan tujuan utama FKDM untuk memperkuat sinergi dalam deteksi dini berbagai persoalan sosial di masyarakat, sekaligus melaporkan temuan tersebut sebagai dasar pertimbangan kebijakan daerah.

Kegiatan ini melibatkan akademisi sebagai pembicara di antaranya dua akademisi UNAIR yakni Prof Bagong Suyanto dan Novri Susan PhD, serta Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PKB Hikmah Bafaqih. Dengan mendatangkan narasumber yang kompeten harapannya turut memberikan nilai strategis dalam mengintegrasikan pendekatan ilmiah dengan praktik lapangan.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah pemaparan dari Prof Bagong Suyanto mengenai dinamika kerawanan sosial di Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa konflik sosial sering kali dipicu oleh faktor ekonomi, budaya, maupun perbedaan pola interaksi sosial. “Konflik itu seperti bara api, kecil tetapi potensial. Yang terpenting adalah bagaimana konflik dikelola agar tidak menjadi destruktif,” jelasnya.

Prof Bagong juga menyoroti pentingnya ruang pertemuan antar kelompok masyarakat untuk mengurangi potensi konflik. Menurutnya, minimnya interaksi dapat memunculkan prasangka dan hambatan sosial. Karena itu, FKDM memiliki peran penting untuk tidak hanya mendeteksi kerawanan, tetapi juga membantu menciptakan ruang dialog dan interaksi.

Selama tiga hari penyelenggaraan, peserta mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari penyusunan instrumen deteksi, identifikasi data sosial, pemetaan aktor konflik, hingga simulasi penilaian kerawanan. Dengan materi yang komprehensif, kegiatan ini harapannya mampu memperkuat respons cepat FKDM di wilayah masing-masing.

Melalui rangkaian kegiatan ini, FKDM Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas sosial, memperkuat koordinasi lintas wilayah, dan memastikan kesiapsiagaan terhadap berbagai kemungkinan ancaman di masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 11, yaitu Sustainable Cities and Communities.

Penulis: Muhamad Rohman Obet

Editor: Yulia Rohmawati