Universitas Airlangga Official Website

Dosen FIB UNAIR Berbagi Inspirasi dari Panggung Sastra Internasional UWRF 2025

Kukuh saat menjadi pembicara dalam sesi Masterclass UWRF 2025 (Foto: UWRF)
Kukuh saat menjadi pembicara dalam sesi Masterclass UWRF 2025 (Foto: UWRF)

UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan kebanggaan di kancah sastra internasional. Setelah karyanya berhasil lolos seleksi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, Kukuh Yudha Karnanta SS MA kini didapuk menjadi salah satu pembicara dalam festival salah satu festival sastra terkemuka bertaraf internasional.

Keikutsertaannya pada UWRF 2025 jadi kebanggaan tersendiri bagi institusi sekaligus juga jendela untuk melihat bagaimana dinamika sastra global yang inklusif dan beragam. Ia mengungkapkan pengalaman langsungnya di tengah ratusan sastrawan internasional menjadi kisah yang begitu menarik. 

“UWRF adalah festival sastra yang terkonsep dan tereksekusi dengan baik, serta inklusif. 150 penulis dan ratusan pembaca dari berbagai bangsa, Asia, Eropa,  Australia, Amerika, semuanya ada, dan punya ruang setara untuk berbicara. Baik yang sudah established sebagai penulis, maupun yang masing emerging. Bagi saya, UWRF perayaan atas miniatur semesta sastra dunia,” ungkapnya. 

Kukuh (tiga dari kanan) ketika sesi peluncuran buku antologi dengan karyanya yang terdapat di dalamnya (Foto: UWRF)
Diskusi Hangat

Sebagai salah satu pembicara, Kukuh menuturkan salah satu sesi yang menggugah pemikirannya adalah diskusi hangat tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia penulisan. Menurutnya, AI sudah menjadi realitas yang tak terelakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ranah sastra. 

“Diskusi tentang AI di sana cukup hangat. AI sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Menolaknya mentah-mentah adalah sia-sia, tapi juga bukan berarti menerima dan menggunakannya secara sembarangan. Harus ada etika dan pengetahuan yang cukup untuk menggunakannya, khususnya dalam tulis menulis,” jelasnya. 

Tak hanya sebatas diskusi, momen hangat berlanjut ketika Kukuh dan sepuluh penulis emerging lainnya berkumpul dan berbagi cerita dengan penuh keakraban. “Yang awalnya belum saling kenal, pulang-pulang rasanya seperti saudara, dan berjanji saling bertegur sapa lewat karya. Saya kira begitulah sastra. Mampu mendekatkan dan mengakrabkan,” kenangnya.

Festival Bergengsi

Sebagai seorang akademisi yang akrab dengan forum seminar ilmiah, ia menemukan nuansa yang sangat berbeda di UWRF. Festival sastra bergengsi ini justru menawarkan dinamika yang lebih cair, santai, dan akrab. Keikutsertaannya dalam festival ini juga membuka peluang jaringan yang luas. Bahkan,  beberapa memberikan respon positif atas karyanya.

“Kemarin saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa pihak penerbit. Beberapa juga mengomentari karya saya, dan tertarik membicarakannya lebih jauh,” sebutnya

Melihat tren global di UWRF yang tak hanya pada sastra, ia melihat peluang besar bagi civitas akademika UNAIR. “UWRF tidak hanya sastra, sebenarnya. Ada berbagai topik seperti sejarah, lingkungan, politik, dan lainnya. Tentu ini kesempatan bagi civitas UNAIR dengan latar belakang keilmuan yang beragam. UNAIR juga punya penerbitan. Kenapa tidak mulai banyak menerbitkan karya sastra dan ikut di UWRF mendatang?,” tandasnya. 

Penulis: Mohammad Adif Albarado

Editor: Ragil Kukuh Imanto