Universitas Airlangga Official Website

Dosen FKG UNAIR Raih Penghargaan Best Poster Konferensi Internasional di Malaysia

UNAIR NEWS – Civitas akademika Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Kali ini berasal dari dosen asal Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Reza Al Fessi drg MKedKlin SpBM(K). Ia berhasil meraih best poster dalam ajang International Conference on Academic-Community Engagement (InACE). Acara itu berlangsung pada Selasa (29/8/2023) dan Rabu (30/8/2023) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kali ini, dokter Reza mempresentasikan poster berjudul Disparity in Cleft Lip and Palate Care: Exploring Knowledge and Attitude Practices Among Rural and Urban Communities in Indonesia. Poster tersebut merepresentasikan projek yang tim FKG UNAIR inisiasi.

Projek tersebut diinisiasi oleh empat akademisi FKG UNAIR. Mereka adalah Reza Al Fessi drg MKedKlin Sp BM(K), Prof Drg Coen Pramono D SUSp BM (K), Dr Indra Mulyawan drg MMRS SpBM(K) FICS, dan Prasiddha Mahardhika El Fadhlallah drg M Kes.

Dokter Reza mengungkapkan bahwa projek ini menganalisis perbedaan pengetahuan sikap dan perilaku terkait pola perawatan penderita bibir sumbing dan lelangit. Yakni, antara komunitas pedesaan dan komunitas perkotaan di Indonesia.

“Mulanya kami memahami adanya disparitas tingkat pengetahuan di antara komunitas tersebut. Upaya lalu diarahkan untuk meningkatkan sikap dan perilaku komunitas. Yaitu agar mendukung perawatan penderita bibir sumbing dan lelangit di seluruh negeri,” ujar dosen FKG UNAIR itu.

Dapatkan Banyak Pengalaman

Tiga hari pertama kedatangan di Malaysia, sebanyak 76 anggota rombongan dari UNAIR, termasuk dokter Reza, melakukan kunjungan lapangan pemberdayaan komunitas di Johor yang bekerja sama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Selain itu, beberapa akademisi UNAIR melakukan program penyuluhan budidaya tanaman dan obat kesehatan gigi dan mulut. Lalu, melakukan peninjauan lokasi pemberdayaan lingkungan di pesisir Sungai Kim-Kim yang pernah tercemar proyek industri.

Kemudian tiga hari berikutnya, dokter Reza pergi ke lokasi acara konferensi untuk mempresentasikan gagasannya di depan seluruh akademisi yang hadir. Selama acara berlangsung dokter Reza berinteraksi dan berbagi ide kolaborasi ilmiah dengan sesama peserta.

Bukan hal yang mudah bagi dokter Reza dalam mempersiapkan presentasi di ajang konferensi internasional itu. Ia perlu melakukan riset mengenai konsep yang berkaitan dengan pemberdayaan komunitas dalam kurun waktu tiga bulan saja.

Selain menyiapkan konsep dalam bentuk poster menarik, dokter Reza juga mengaku perlu mempersiapkan kemampuan public speaking dan mental dalam menghadapi pertanyaan, kritik, dan saran dari juri.

Bagi dokter Reza, mengikuti acara ini merupakan suatu kehormatan. Sebab, acara ini menyediakan wadah untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan ide dengan para peneliti dan praktisi akademis di antara kedua negara.

“Acara ini juga menjadi wadah yang ideal untuk kegiatan kolaboratif agar menghasilkan gagasan dan solusi yang inovatif untuk tantangan-tantangan yang dihadapi dalam keterlibatan akademik dan masyarakat,” ungkap dokter bedah mulut sekaligus dosen FKG UNAIR itu.

“Saya sangat mengapresiasi kerja keras penyelenggara. Terutama dalam menyajikan berbagai topik pemberdayaan dan pembelajaran berbasis masyarakat dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu,” tutur dokter Reza pada akhir sesi wawancara. (*)

Penulis: Aidatul Fitriyah

Editor: Binti Q Masruroh