Universitas Airlangga Official Website

Dosen FKG Ungkap Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut pada Implementasi SDGs

Dosen FKG UNAIR Dini Setyowati drg MPH PhD saat mengisi webinar Dental Health Education (sumber: Istimewa)

UNAIR NEWSSustainable development goals (SDGs) menjadi cita-cita pembangunan global yang mencakup 17 pilar. Salah satu pilar penting yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia adalah pilar Kehidupan Sehat dan Sejahtera. 

Dari sana, Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) Dini Setyowati drg MPH PhD menyebut kesehatan gigi dan mulut punya peran besar dalam upaya implementasi pilar ketiga SDGs tersebut.

Mengapa? 

Hasil studi The Global Burden of Disease menemukan bahwa penyakit gigi dan mulut menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat di berbagai negara. Tercatat ada 3,5 Miliar orang di seluruh dunia yang mengalami masalah kesehatan mulut dan gigi.

“Masalah kesehatan itu bisa berupa lubang gigi, periodontitis, kanker mulut, maupun celah bibir atau lelangit,” imbuhnya dalam webinar Dental Health Education FKG UNAIR pada Sabtu (28/5/2022).

Masalah gigi dan mulut sendiri sangat berdampak pada kualitas hidup individu. Mulai dari aspek fisik, sosial, psikologi, bahkan hingga finansial karena biaya perawatan yang tinggi.

Padahal, standar kesehatan seseorang dinilai dari kesehatan fisik, sosial, dan jiwa. “Maka dari itu, jika kesehatan gigi dan mulut tidak mampu dicapai, pilar ketiga SDGs juga tidak akan mampu diraih walau semua aspek kesehatan lain terpenuhi,” sambung drg Dini.

Dosen FKG UNAIR Dini Setyowati drg MPH PhD saat mengisi webinar Dental Health Education (sumber: Istimewa)
Pentingnya Universal Health Coverage

Berdasarkan situasi tersebut, drg Dini menekankan pentingnya kehadiran universal health coverage (UHC) di setiap negara. Indonesia sendiri saat ini telah memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Kita sudah bagus punya BPJS yang menaungi kebutuhan tersebut. Meski belum seluruh rakyat Indonesia memilikinya, namun kita masih punya waktu hingga tahun 2030,” jelas dosen Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat itu.

BPJS ia yakini dapat menjadi jembatan untuk memberikan perawatan gigi dan mulut yang lebih murah dan mudah diakses. Akan tetapi masih ada pekerjaan rumah penting, khususnya terkait pengumpulan dana BPJS yang sering macet.

drg Dini memandang pemerintah harus bekerja ekstra untuk menumbuhkan pemahaman masyarakat akan pentingnya UHC. Selain itu, drg Dini pun berharap fasilitas tersebut mampu melakukan integrasi perawatan kesehatan.

“Banyak penyakit gigi yang punya faktor risiko yang sama dengan beberapa penyakit kronik. Untuk itu perawatan kesehatan tidak boleh terkotak-kotak. Pemeriksaan penyakit gigi dan mulut juga harus diikuti dengan pemeriksaan risiko penyakit lain,” katanya. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria