UNAIR NEWS – Sains dan teknologi memiliki peran besar bagi kehidupan umat manusia, termasuk dalam memperkuat keimanan agama islam. Hal tersebut menjadi topik dalam Kajian Rutin Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga pada Selasa (4/3/2025). Melalui kolaborasi dengan JIMM FST, kajian tersebut menggandeng Dr Soegiantono Soelistiono IR M Si sebagai narasumber.
Menurut Dr Soegianto, sejak zaman renaisans yang menjadi awal kebangkitan bangsa Eropa, ilmu sains seolah-olah dipisahkan dengan ilmu agama. Fenomena itu disebut sebagai sekularisme, yang masih eksis hingga kini. “Jika kita melihat disertasi-disertasi sekarang, paling kita menjumpai Al Quran dan Hadist dipakai sebagai pemanis doang di kata pengantar,” ujarnya.
Fenomena sekularisme, sambungnya, melemahkan umat manusia. Artinya, jika manusia tidak mampu menyatukan keilmuan dan agama maka tidak akan lagi ditemukan seorang ulama yang sekaligus merupakan seorang ilmuwan.
“Padahal di zaman kejayaan islam, kalau kita mengenal Al Jabr dan Al Kindi, itu adalah ulama-ulama yang juga seorang ilmuwan,” tegas Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR itu.
Lebih lanjut Dr Soegiantono mengajak mahasiswa untuk membuang sekat antara ilmu agama dan sains. “Jika kita ingin mendekatkan diri pada Allah, ayo digabungkan antara bagaimana keilmuan dan bagaimana proses kita mendekatkan diri kepada Allah. Yuk kita bongkar sekat ini bahwa tidak ada lagi ilmu agama, tidak ada lagi ilmu umum. Ilmu itu cuma satu,” ajaknya.
Doa dan Logika
Sementara itu, ia juga mengatakan bahwa seringkali logika manusia tidak meyakini bahwa kekuatan doa merupakan kekuatan yang nyata. Dr Soegiantono menyatakan bahwa pemikiran tersebut berasal dari orang-orang sekuler. “Logika kita mengatakan bahwa apakah sholat saya bisa membuat saya jadi kaya? Ini adalah pemikiran orang sekuler,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr Soegiantono mengajak mahasiswa untuk menyeimbangkan doa dan logika. “Yuk, kita olah hati kita supaya kita meyakini bahwa doa itu terjadi. Otak kita begitu pintar mengelabui seakan-akan apa yang ada di hati kita tidak perlu dijadikan pijakan, tetapi yang perlu dijadikan pijakan adalah otak,” ucapnya.
Penulis: Septy Dwi Bahari Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





