UNAIR NEWS – Usaha pemerintah Jawa Timur dalam mengentaskan kemiskinan dilakukan melalui beragam cara. Salah satunya dengan program Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera Penanggulangan Kerentanan Kemiskinan (Jalin Matra PK2) yang digagas oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur.
Lantaran program itu, dosen Departemen Sosiologi Universitas Airlangga Doddy Sumbodo Singgih, MS., dipercaya menjadi pendamping terhadap 5.231 rumah tangga di Jawa Timur. Pendampingan tersebut bertujuan mengentaskan kemiskinan serta menciptakan masyarakat yang mandiri dengan memiliki usaha yang produktif dengan cara meminjamkan dana bantuan usaha.
Pendampingan terhadap 180 desa dan 29 kabupaten itu berjalan terhitung sejak Januari hingga Desember tahun ini. Evaluasi program dilaksanakan pada Kamis (20/12) di Aula Soetandyo, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNAIR.
Program tersebut telah berjalan tiga tahun dan akan terus berlangsung hingga satu tahun ke depan pemerintahan Gubernur Jatim Soekarwo. Dalam tiga tahun program itu berjalan, Doddy dipercaya menjadi ketua Jalin Matra PK2.
”Rumah tangga sasaran program tersebut bukan orang miskin, melainkan orang-orang yang hampir miskin. Kita bantu mereka dengan usaha yang produktif agar tidak terjeblos menjadi orang miskin,” ungkap Doddy.
Bantuannya berupa pemberian pinjaman dana murah yang berasal dari dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Untuk dapat memperoleh dana pinjaman itu, mereka harus membentuk kelompok masyarakat beranggota lima hingga tujuh orang.
Masing-masing kelompok masyarakat dipinjami dana senilai 65 juta yang dapat digunakan untuk usaha produktif. Kriteria kemiskinan tersebut didapat dari 14 indikator kemiskinan yang didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Doddy berproses lama dalam melakukan pendampingan masyarakat itu. Mulai merekrut tenaga di tingkat kabupaten, memberikan sosialisasi program, pengendalian agar pemberian dana tepat sasaran, hingga mengatur keuangan dari dinas.
”Kami rekrut dan latih para pendamping dari 29 kabupaten. Intinya, kami mendampingi mereka agar dana APBD yang dipinjamkan secara murah kepada rumah tangga sasaran kembali dengan selamat,” ujar Doddy.
”Kita ditugaskan untuk mengawal itu. Jangan sampai ada penyimpangan prosedur, baik yang berpotensi merugikan maupun yang tidak merugikan,” tambahnya.
Dari tahun ke tahun, jumlah desa yang mendapatkan bantuan dana terus bertambah. Tahun depan jumlah desa yang akan mendapatkan bantuan peminjaman dana mencapai 212 desa. Selama 2015 hingga 2018, pemerintah mematok target 1.000 desa dapat didampingi.
Dalam program tersebut, UNAIR tidak sendirian. Ada perguruan tinggi lain yang diberi amanah hampir sama. UNAIR diamanahi menjalankan program Jalin Matra PK2, Universitas Negeri Malang program Jalin Matra Bantuan Rumah Tangga Sangat Miskin (BRTSM), dan Universitas Brawijaya Jalin Matra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan (PFK).
Doddy berharap program pemerintah itu bisa berlangsung secara berkelanjutan. Dengan demikian, visi pemerintah menuju masyarakat yang mandiri dan sejahtera dapat terlaksana.
Sementara itu, Nurul Muntasyiroh, S.Ag., S.H, M.M., selaku kepala Seksi Pemberdayaan Lembaga Ekonomi Desa menyatakan bahwa dalam program tersebut, UNAIR berperan sebagai penyedia SDM sekaligus staf ahli.
”Kami memiliki keterbatasan SDM serta keahlian. Selain menyediakan SDM, UNAIR memiliki tenaga ahli yang memberikan telaah terhadap berjalannya program agar sesuai dengan tujuan,” ungkapnya. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Feri Fenoria





