Universitas Airlangga Official Website

Dosen UNAIR Sebut Dukungan Suporter Timnas Jadi Wujud Persatuan dan Nasionalisme

Ilustrasi Timnas Indonesia (Foto: Radar Pena Disway)
Ilustrasi Timnas Indonesia (Foto: Radar Pena Disway)

UNAIR NEWS – Tim Nasional Sepak Bola (Timnas) Indonesia kembali akan hadapi lanjutan pagelaran putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Demi menjaga asa lolos ke ajang empat tahunan tersebut, Timnas Indonesia harus setidaknya mencuri poin dari tim raksasa Australia dan merengkuh kemenangan ketika menjamu Bahrain.

Terjadwal, Timnas Indonesia akan hadapi kedua tim tersebut pada Kamis (20/3/2025) dan Selasa (25/3/2025). Jelang aksi punggawa garuda, para suporter Timnas memberikan dukungan secara masif baik secara langsung maupun lewat media sosial. Masifnya dukungan ini dinilai mampu menjadi sebagai wujud alat pemersatu sosial serta identitas nasional. 

Dosen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Rizky Sugianto Putri SAnt MSi turut mengemukakan pandangannya. Menurutnya, dukungan melimpah ini bisa memberi dampak positif maupun negatif bagai pisau bermata dua. 

Rizky Sugianto Putri SAnt MSi, Dosen Antropologi Universitas Airlangga (UNAIR) (Foto: Istimewa)
Rizky Sugianto Putri SAnt MSi, Dosen Antropologi Universitas Airlangga (UNAIR) (Foto: Istimewa)

“Dukungan melimpah ini bisa menjadi hal positif, ketika suporter kita mampu untuk menjadi lebih dewasa. Kita ingin timnas kita berkelas dunia. Namun, jangan lupa untuk bercermin. Apakah kita sebagai suporter juga sudah menunjukkan sikap dewasa yang berkelas dunia,” ucapnya. 

Cap sebagai negara “gila bola” menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan animo masyarakat paling tinggi terhadap olahraga kulit bundar ini. Sejalan dengan hal tersebut, ia menerangkan bahwa sepak bola di Indonesia menjadi olahraga yang mampu melewati batasan sosial.

“Anak laki-laki maupun perempuan yang ada di wilayah 3T, remaja baik di pedesaan maupun perkotaan, hingga orang dewasa dengan latar belakang beragam, dapat dengan mudah blending ketika bermain sepak bola. Ini yang dinamakan olahraga adalah bahasa universal,” jelas dosen yang berfokus pada kajian antropologi olahraga itu. 

Lebih dari sekadar olahraga, bagi Rizky, sepak bola Indonesia juga wujud dari nasionalisme, kebanggan, dan simbol identitas. Namun, ia berpesan kepada masyarakat untuk berhati-hati agar tidak muncul hyper-nasionalisme. “Hal tersebut memunculkan sentimen negatif, yang kadang berujung destruktif, seperti ujaran kebencian maupun perilaku rasis terhadap kelompok suporter atau timnas negara lain,” ungkapnya. 

Sebagai negara pengirim pekerja migran terbanyak di ASEAN, Rizky menyebutkan ini menjadi hal yang lazim apabila Timnas Indonesia memiliki banyak pemain diaspora. “Peta persebaran WNI semakin luas. Kawin campur juga semakin banyak. Hasilnya memiliki banyak warga keturunan berafiliasi negara lain. Mereka ini target utama dinaturalisasi,” sebutnya. 

Meskipun begitu, menurutnya, kehadiran pemain diaspora tidak sepatutnya dianggap sebagai sebuah ancaman. Melainkan sebagai kekuatan untuk meraih berbagai prestasi. “Indonesia seharusnya belajar dari negara maju, bukannya terjebak dalam dikotomi ‘pribumi’ dan ‘diaspora’ semata,” terangnya. 

Pada akhir, Rizky optimis bahwa dengan peran strategis dan dukungan positif suporter sebagai pemain kedua belas, Timnas Indonesia mampu berbicara banyak di pentas dunia. “Jika kita mampu bersatu, bukan tidak mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita akan melihat Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia,” harapnya. 

Penulis: Mohammad Adif Albarado

Editor: Yulia Rohmawati