Universitas Airlangga Official Website

Dosen UNAIR Soroti Konflik Digital Lintas Negara

Ilustrasi polarisasi dan solidaritas kelompok di media sosial yang kerap dipicu isu identitas dan sentimen kolektif dalam konflik digital lintas negara. (Dok. Freepik)
Ilustrasi polarisasi dan solidaritas kelompok di media sosial yang kerap dipicu isu identitas dan sentimen kolektif dalam konflik digital lintas negara. (Dok. Freepik)

UNAIR NEWS – Perseteruan warganet lintas negara yang bermula dari pelanggaran aturan di sebuah konser musik kembali memantik perhatian publik. Insiden yang awalnya bersifat lokal itu berubah menjadi perdebatan masif di media sosial, bahkan merembet pada sentimen identitas dan stereotip antar kelompok.

Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Syamsiyah S Sosio Msc, memandang fenomena tersebut sebagai dinamika sosial khas era digital. Menurutnya, ruang hiburan yang awalnya menjadi arena interaksi biasa dapat beralih menjadi konflik simbolik ketika masuk ke ruang digital yang sarat kepentingan dan identitas kolektif.

“Insiden yang tadinya bersifat situasional bisa berubah menjadi simbol representasi kelompok tertentu. Ketika sudah sampai pada titik itu, konflik bergeser dari perilaku individu menjadi konflik antar identitas kolektif,” jelasnya.

Nur Syamsiyah, SSosio MSc, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. (Foto: Narasumber)
Dari Pelanggaran Individu ke Identitas Kolektif

Menurutnya, di era digital setiap peristiwa dapat dengan mudah didokumentasikan, dibagikan, dan dimaknai ulang oleh publik lintas negara. Proses framing dan reframing yang berlangsung cepat membuat isu yang semula terkait etika dan aturan melebar menjadi generalisasi terhadap kelompok tertentu.

Alih-alih membahas tindakan individu secara spesifik, perdebatan kerap bergeser menjadi stereotip terhadap asal negara, budaya, ras, bahkan status ekonomi. Di titik inilah, konflik sosial memasuki ranah identitas.

“Ruang digital memungkinkan eskalasi konflik dari ranah individu menjadi kelompok identitas. Generalisasi inilah yang kemudian memperkuat prasangka,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa konflik digital tidak membutuhkan kedekatan geografis maupun mobilisasi fisik. Dalam hitungan jam, perdebatan dapat melibatkan banyak aktor dari berbagai negara.

Polarisasi dan Solidaritas di Era Algoritma

Lebih lanjut, Ia menilai media sosial berperan besar dalam mempercepat polarisasi. Algoritma platform cenderung meningkatkan visibilitas konten yang memicu emosi seperti marah, tersinggung, atau bangga sehingga narasi provokatif lebih mudah viral.

Dalam konteks tersebut, label seperti “SEAblings” dan “K-nets” muncul sebagai simbol identitas kolektif. Ia mengaitkannya dengan teori fungsi konflik Lewis A. Coser, bahwa ancaman eksternal dapat memperkuat solidaritas internal suatu kelompok.

“Ketika ada pihak luar yang dianggap menyerang identitas mereka, solidaritas internal menguat sebagai bentuk pertahanan simbolik,” jelasnya. Konflik digital pun dapat terjadi secara spontan, lintas batas negara, dan tereskalasi hanya dalam hitungan jam tanpa perlu mobilisasi fisik.

Pada akhirnya, Ia mengingatkan pentingnya literasi digital dan kesadaran sosial dalam meredam konflik lintas negara. Verifikasi informasi, pemahaman konteks, serta sikap reflektif sebelum bereaksi menjadi kunci agar perdebatan tidak berkembang menjadi ujaran kebencian dan rasisme yang berdampak panjang pada relasi antar masyarakat di kawasan Asia.

Penulis: Era Fazira
Editor: Ragil Kukuh Imanto