UNAIR NEWS – Lihat potensi Indonesia menjadi produsen semiconductor, American Corner Universitas Airlangga (UNAIR) gelar kuliah tamu bertajuk Semiconductor: The Mother of All 21th Century Technology. Acara ini berlangsung di Aula Majapahit, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR pada Sabtu (23/8/2025).
Mengundang Tahta Amrillah SSi MSc PhD, dosen Rekayasa Nanoteknologi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM). Ia menyoroti perkembangan elektronik yang begitu luar biasa dimulai dengan penemuan bell telephone hingga menjadi electronic device yang lebih canggih.
Alat-alat tersebut dapat bekerja karena adanya aliran listrik, sehingga disebut electronic device. Electronic device memiliki perkembangan yang dulunya hanya tulisan atau suara saja sekarang bisa membentuk gambar, perintah, hingga gerakan.
Bagaimana Alat Elektronik dapat Berkembang?
Perkembangan elektronik ini tentu memiliki sebab yang juga menjadikan sebuah benda elektronik yang awalnya besar seperti komputer menjadi kecil seperti telepon genggam. Hal ini merupakan akibat dari perubahan komponen yang awalnya besar menjadi kecil yang disebut juga teknologi nano.
Tahta mengatakan bahwa di dalam sebuah alat elektronik seperti telepon genggam juga terdapat transistor yang sangat kecil. “Transistor tersebut terbuat dari material-material kecil seperti metal dan semiconductor. Material semiconductor sendiri merupakan material yang bisa menghantarkan listrik dan hanya berjenis dua,” katanya.
Produksi Semiconductor
Semiconductor yang sering digunakan terbuat dari silikon yang berasal dari pasir kuarsa, dan Indonesia memiliki sumber daya pasir kuarsa yang sangat besar. “Persebaran sumber daya alam Indonesia termasuk pasir kuarsa yang menjadi bahan utama silikon begitu melimpah jumlahnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti keberadaan pasir kuarsa di Indonesia yang begitu melimpah berbanding terbalik dengan produksi semiconductor di Indonesia. “Banyak negara tidak memiliki pasir kuarsa yang melimpah namun mereka tetap bisa memproduksi semiconductor secara banyak. Akan tetapi Indonesia malah tidak gencar melakukannya,” tuturnya.
Menurut Tahta hal ini merupakan akibat dari ketimpangan antara sumber daya alam dan sumber daya manusia. Ia berharap mahasiswa program studi Nano Teknologi UNAIR dapat menjadi pionir produksi semiconductor di Indonesia. Mengingat hanya UNAIR yang memiliki Program Studi Sarjana Nanoteknologi.
Ia juga menyayangkan minimnya pembahasan dan riset mengenai semiconductor di Indonesia. Hal ini juga akibat kurangnya fasilitas riset semiconductor di Indonesia. Namun, ia juga melihat beberapa bulan ini sudah terlihat perkembangan di Indonesia, seperti rencana pembangunan pabrik semiconductor di Indonesia.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





