Penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Di tengah berbagai program kesehatan yang telah dijalankan pemerintah, beban penyakit ini justru terus meningkat dalam dua dekade terakhir. Fakta ini terungkap dari kajian terbaru berbasis Global Burden of Disease (GBD) 2021 yang menganalisis perubahan beban penyakit jantung koroner di Indonesia sejak 2002 hingga 2021.
Penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi tantangan serius kesehatan masyarakat di Indonesia. Analisis berbasis data Global Burden of Disease (GBD) 2021 menunjukkan bahwa beban penyakit jantung koroner di Indonesia meningkat sebesar 10,5% selama periode 2002–2021, meskipun berbagai kebijakan dan program pengendalian penyakit tidak menular telah diterapkan.
Beban penyakit diukur menggunakan Disability-Adjusted Life Years (DALYs), yaitu indikator komprehensif yang menggabungkan angka kematian dini dan tahun hidup dengan disabilitas. Peningkatan DALYs mencerminkan bertambahnya dampak PJK terhadap kualitas hidup dan produktivitas masyarakat.
Apa Itu Beban Penyakit?
Dalam dunia kesehatan masyarakat, beban penyakit tidak hanya dihitung dari jumlah kematian, tetapi juga dari berapa tahun hidup yang hilang akibat kematian dini dan disabilitas. Ukuran ini dikenal sebagai Disability-Adjusted Life Years (DALYs). Beban penyakit diukur menggunakan Disability-Adjusted Life Years (DALYs), yaitu indikator komprehensif yang menggabungkan angka kematian dini dan tahun hidup dengan disabilitas. Peningkatan DALYs mencerminkan bertambahnya dampak PJK terhadap kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Semakin besar angka DALYs, semakin besar pula dampak penyakit tersebut terhadap kualitas hidup masyarakat.
Beban Penyakit Jantung Koroner Terus Naik
Hasil analisis menunjukkan bahwa beban penyakit jantung koroner di Indonesia meningkat 10,5% dalam 20 tahun terakhir. Pada tahun 2002, angka DALYs akibat PJK tercatat sebesar 2.753 per 100.000 penduduk, dan meningkat menjadi 3.043 per 100.000 penduduk pada tahun 2021.
Menariknya, peningkatan ini terjadi ketika secara global justru beban penyakit kardiovaskular cenderung menurun. Artinya, Indonesia menghadapi tantangan tersendiri dalam mengendalikan penyakit jantung koroner.
Ketimpangan Antarprovinsi
Secara geografis, beban PJK di Indonesia tidak merata. Maluku Utara secara konsisten menjadi provinsi dengan beban PJK tertinggi selama dua dekade terakhir. Sebaliknya, Kalimantan Utara tercatat sebagai provinsi dengan beban terendah.
Beberapa provinsi bahkan mengalami lonjakan yang cukup tajam. Sulawesi Selatan, misalnya, mencatat peningkatan beban PJK tertinggi, mencapai lebih dari 40%. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor risiko dan gaya hidup masyarakat sangat berpengaruh terhadap kesehatan jantung.
Hipertensi: Musuh Utama Jantung
Dari berbagai faktor risiko yang dianalisis, hipertensi (tekanan darah tinggi) muncul sebagai penyumbang terbesar beban penyakit jantung koroner di Indonesia. Posisi kedua ditempati oleh pola makan berisiko, seperti konsumsi garam berlebihan, rendah serat, dan minim asupan pangan sehat.
Selain itu, sejumlah faktor lain terbukti berkontribusi besar, antara lain:
- Kurangnya aktivitas fisik
- Obesitas
- Kadar kolesterol LDL tinggi
- Gula darah puasa tinggi
- Konsumsi tembakau
Ketika faktor-faktor ini digabungkan, dampaknya terhadap beban PJK menjadi sangat signifikan.
Rokok Masih Jadi Masalah Serius
Konsumsi tembakau terbukti secara konsisten berpengaruh terhadap meningkatnya beban penyakit jantung koroner, baik pada tahun 2002 maupun 2021. Meski berbagai kebijakan pengendalian rokok telah diterapkan, tembakau masih menjadi salah satu faktor risiko utama yang sulit dikendalikan di Indonesia.
Faktor Lingkungan Tidak Dominan
Menariknya, faktor lingkungan seperti polusi udara dan suhu ekstrem tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap beban PJK di Indonesia dalam analisis ini. Temuan ini berbeda dengan beberapa studi global, namun sejalan dengan karakteristik iklim tropis Indonesia yang relatif stabil sepanjang tahun.
Mengapa Ini Penting?
Peningkatan beban penyakit jantung koroner menandakan bahwa upaya pencegahan yang ada belum sepenuhnya efektif. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan kematian, tetapi juga mengurangi produktivitas, meningkatkan biaya kesehatan, dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Upaya promotif dan preventif perlu diperkuat, tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga melalui kebijakan lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan promotif dan preventif berbasis populasi, didukung kolaborasi lintas sektor dan penguatan layanan kesehatan primer, menjadi kunci untuk menekan beban PJK di masa mendatang.
Penutup
Penyakit jantung koroner bukan sekadar masalah medis, tetapi juga cerminan gaya hidup dan kebijakan kesehatan suatu bangsa. Dua dekade terakhir menjadi peringatan bahwa tanpa perubahan serius, beban penyakit ini akan terus meningkat. Kabar baiknya, sebagian besar faktor risikonya dapat dicegah—asal kita mau bergerak bersama, mulai dari individu hingga pembuat kebijakan.
Penulis: Kurnia Dwi Artanti





