Universitas Airlangga Official Website

Dua Dekade Prodi Bahasa Jepang FIB UNAIR, Hadirkan Pakar Linguistik Bahasa Jepang

Sambutan dari Tatang Hariri, M.A., Ph.D., kepada mahasiswa dan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR pada kuliah tamu “Karakteristik Bahasa Jepang” pada Kamis (5/3/2026). (Foto: Zoom Meeting)
Sambutan dari Tatang Hariri, M.A., Ph.D., kepada mahasiswa dan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR pada kuliah tamu “Karakteristik Bahasa Jepang” pada Kamis (5/3/2026). (Foto: Zoom Meeting)

UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati 20 tahun berdirinya Program Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk Karakteristik Bahasa Jepang pada Kamis (5/3/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Tatang Hariri, M.A., Ph.D., selaku dosen sekaligus pakar linguistik Jepang dari Universitas Gadjah Mada.

Hadir dalam Kegiatan ini mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang serta para dosen yang tertarik pada kajian linguistik, budaya dan bahasa Jepang. Dalam materinya, Tatang Hariri menjelaskan bahwa bahasa Jepang mempunyai karakteristik yang unik dari segi pelafalannya, implementasi di kehidupan sehari hari, sampai intonasi dari bahasa Jepang itu sendiri. Selain itu, Tatang Hariri memaparkan bahwa bahasa Jepang mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dengan bahasa lain, terutama bahasa Indonesia. Menurutnya, memahami keunikan dalam bahasa Jepang tidak hanya penting bagi mahasiswa maupun peneliti. Tetapi juga bagi mereka yang tertarik dengan kebudayaan dan masyarakat Jepang itu sendiri.

Perbedaan Bahasa Jepang dengan Bahasa Lain

Pada sesi pertama, Tatang Hariri membahas sejumlah perbedaan mendasar antara bahasa Jepang dan bahasa lain. Tidak seperti bahasa lain yang memiliki beragam ciri khas dalam setiap gaya bahasanya, bahasa Jepang secara garis besar terbagi menjadi dua gaya bahasa, yaitu Kokugo (Goku) dan Nihongo (Goku). Kedua gaya bahasa tersebut berada dalam konteks yang berbeda. Kokugo (Goku) merujuk pada bahasa Jepang sebagai bahasa nasional Jepang. Sedangkan Nihongo (Goku) merujuk pada bahasa Jepang yang dipelajari dan digunakan dalam konteks internasional.

Berbeda dengan bahasa lain, terutama Indonesia yang mempunyai banyak variasi seperti aksen Jawa, Sunda, Batak dan lainnya, bahasa Jepang lebih menekankan pada nada intonasi, konteks dan aksen yang pada pengucapannya. Tatang Hariri menjelaskan bahwa perbedaan intonasi sedikitpun dapat mengubah makna pada suatu kalimat. “Karena kalau udah beda intonasi pasti artinya udah beda” Ujarnya. Hal tersebut membuat bahasa Jepang memiliki karakteristik yang unik, terutama dalam hal pelafalan serta konteks penggunaan setiap kata.

Linguistik Bahasa Jepang

Pada sesi kedua, Tatang Hariri menjelaskan detail mengenai aspek linguistik bahasa Jepang. Ia menjelaskan bahwa secara umum bahasa Jepang memiliki lima karakteristik utama. Sifar tersebut antara lain monolingual, merupakan bahasa aglutinatif, menggunakan konjugasi, serta memiliki penggunaan bahasa yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Bahasa Jepang juga mempunyai tata bahasa yang membedakan bahasa non formal dan formal/sopan. Dari sisi bunyi, bahasa Jepang memiliki lima vokal dasar yaitu a, i, u, e, dan o, serta konsonan yang bisa membentuk suatu kalimat. Bahasa Jepang juga menekankan partikel bunyi pada suatu kata. Bentik partikel tersebut seperti bunyi panjang serta kata dengan pelafalan yang sama tetapi memiliki arti berbeda.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai linguistik bahasa Jepang sekaligus memahami karakteristik unik yang membedakannya dari bahasa lain.

Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto