UNAIR NEWS – Suasana haru menyelimuti persemayaman dua guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yakni Prof. Pramonohadi Prabowo Sp.JP(K) dari bidang ilmu kardiologi serta Prof. H Heru Santoso Sp.OG(K) dari bidang ilmu obstetri dan ginekologi.
Sebelum diantar menuju pemakaman, keduanya disemayamkan bersama-sama pada pukul 09.00 WIB, di Aula Gedung Grabik IPTEKDOK FK UNAIR, Rabu (30/5). Ratusan peziarah tampak memadati Aula Grabik IPTEKDOK FK UNAIR menyaksikan prosesi persemayaman berlangsung.
Kehilangan dua sosok guru besar sekaligus tentu menyisakan duka mendalam bagi civitas akademika UNAIR. Mengingat, keduanya memiliki kontribusi besar dalam pengembangan keilmuan kedokteran.
Prof. Pramonohadi meninggal pada Selasa (29/5) pukul 16.53 WIB di RS Premier Surabaya. Sehari kemudian Rabu (30/5), Prof. H Heru Santoso Sp.OG(K) meninggal pada, pukul 00.02 WIB di RS Darmo Surabaya.
Prof Pramono dan Prof Heru adalah dua sosok guru besar inspiratif. Setidaknya ini yang digambarkan oleh ketua instalasi Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) Prof. dr. Mohammad Yogiarto, Sp.,JP(K) FIHA. Prof Yogi mengenal Prof Pramono sebagai sejawat yang sederhana, pendiam, namun dikenal serius dan teliti.
“Beliau adalah guru yang baik. Selalu memberi penalaran dalam menganalisa hal-hal dengan sangat teliti,” kenangnya.
Semasa hidup, Prof Pramono merintis pelaksanaan pendidikan kardiologi khusus intervensi kateterisasi jantung untuk pertama kalinya. Untuk bisa menguasai teknik tersebut, Prof Pramono belajar teknik diagnositik, tindakan, hingga operasi ke Inggris bersama beberapa rekan sejawat lain dari bedah torak, radiologi, dan anestesiologi.
Mereka belajar mempersiapkan open heart di RSUD Dr. Soetomo tahun 1975. Saat itu, belum banyak pakar di bidang itu. Namun Prof Pramono terus semangat mengembangkan skill tersebut hingga dinyatakan tutup usia.
“Lahirnya PPJT RSUD Dr. Soetomo juga tak lepas dari peranan Prof. Pramono,” ungkapnya.
Almarhum Prof. Heru juga menjadi sosok guru besar inspiratif. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Dekan II FK UNAIR Prof. Dr. dr. Budi Santoso SpOG(K). Menurutnya, semasa hidup Prof Heru dikenal sebagai sosok religius dengan tipologi pekerja keras.
“Sebagian besar waktunya memang untuk pelayanan. Beliau terkenal praktek sampai jam 3 pagi, dan pulang subuh. Kemudian jam 7 pagi sudah bertemu lagi dengan pasien di RSUD Dr Soetomo dan beberapa rumah sakit lain. Secara skill beliau luar biasa,” kenangnya.
Prof Heru merupakan salah satu dokter obgyn bidang onkologi, yakni terkait kanker dan tumor yang cukup populer di Surabaya. Di tengah padatnya jadwal praktek, Prof Heru tetap berdedikasi untuk menurunkan keilmuannya kepada para mahasiswa. Ini sesuai dengan pengalaman Prof Budi ketika menjadi murid Prof Heru.
“Dalam aktivitas operasi, Prof Heru selalu dikawal oleh para calon dokter spesialis kandungan. Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan ilmunya sambil melakukan operasi. Di sanalah terjadi transfer skill, beliau membagikan teknik operasi yang benar, hingga trik operasi yang benar,” kenangnya. (*)
Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Binti Q. Masruroh





