Universitas Airlangga Official Website

EDSA Day, Implementasi Nyata Pembelajaran UNAIR Untuk Dorong Kemampuan Multidisiplin

Salah satu booth dalam exhibition EDSA Day 2025 menampilkan tema middle english
Salah satu booth dalam exhibition EDSA Day 2025 menampilkan tema middle english (Foto: Dokumentasi Pribadi)

UNAIR NEWS – Dalam upaya memberikan ruang ekspresi sekaligus mengimplementasikan pembelajaran di kelas, mahasiswa program studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2024 sukses menggelar rangkaian acara EDSA Day pada Senin (2/12/2025). Berlokasi di Gedung Kesenian Cak Durasim, EDSA Day menampilkan exhibition dan perform yang sekaligus menjadi Ujian Akhir Semester (UAS) untuk dua mata kuliah inti, yaitu History of English Literature dan History of English Language.

Exhibition ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan sebuah proyek kreatif yang membagi materi sejarah bahasa dan sastra Inggris ke dalam tiga tema besar yang merepresentasikan evolusi bahasa. Tiga tema tersebut adalah Old English, Middle English, dan Modern English. Melalui pembagian tema ini, mahasiswa berkesempatan untuk menyajikan sejarah yang telah dipelajari dalam bentuk yang lebih visual, realistis, dan interaktif.

Dr Layli Hamidah SS MHum selaku kepala departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB menjelaskan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah untuk memberikan ruang implementasi nyata dari materi yang telah dipelajari di kelas. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya menyampaikan sejarah dalam bentuk lisan belaka, tetapi juga melalui kreativitas. Maka dari itu, kami memilih ujian akhir dalam bentuk proyek seperti exhibition dan perform,” ujarnya.

Salah satu booth dalam exhibition EDSA Day 2025 menampilkan tema middle english
Salah satu booth dalam exhibition EDSA Day 2025 menampilkan tema middle english (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Tidak hanya itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendorong mahasiswa agar dapat menyampaikan informasi sejarah secara realistis. Tidak hanya melalui pembelajaran kognitif, melainkan juga lewat penyampaian yang multidisiplin. Hal ini sejalan dengan upaya departemen untuk mencari cara inovatif dalam evaluasi, yang salah satunya terwujud melalui proyek exhibition dan perform ini.

Pelaksanaan UAS berbasis event ini juga merupakan bagian dari upaya program studi Sastra Inggris FIB dalam mendukung visi UNAIR yang memiliki akreditasi internasional dan selaras dengan tujuan Revolusi Industri 4.0. Sekaligus menegaskan bahwa pembelajaran di UNAIR tidak lagi terbatas pada aspek kognitif murni, melainkan juga menekankan pada pengembangan keterampilan multidisiplin.

Lebih lanjut, melalui kegiatan tersebut, Dr Layli juga menyoroti aspek pembelajaran non-akademik yang mahasiswa dapatkan. “Mahasiswa tidak hanya belajar tentang mata kuliah inti, tetapi juga bisa belajar aspek pendukung lain, seperti penyelenggaraan event secara menyeluruh. Hal ini penting untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja yang menuntut kemampuan multidisiplin,” pungkasnya.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra

Editor: Yulia Rohmawati