Universitas Airlangga Official Website

Edukasi Keamanan Digital di Desa Babatkumpul, Mahasiswa UNAIR Tekan Risiko Penipuan Online di Masyarakat

Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas 7 Universitas Airlangga (BBK 7 Unair) foto bersama dengan Ibu-ibu PKK Babatkumpul, Pucuk, Lamongan, Jumat (9/1/2026).
Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas 7 Universitas Airlangga (BBK 7 Unair) foto bersama dengan Ibu-ibu PKK Babatkumpul, Pucuk, Lamongan, Jumat (9/1/2026).

Maraknya kejahatan berbasis digital kini tidak hanya menjadi persoalan masyarakat perkotaan. Berbagai modus penipuan online mulai merambah wilayah pedesaan, menyasar masyarakat dengan tingkat literasi keamanan digital yang masih terbatas. Penipuan berkedok undian berhadiah, lowongan kerja palsu, tugas berbayar, hingga penyebaran tautan berbahaya melalui pesan singkat dan media sosial menjadi ancaman nyata yang kian sering terjadi di lingkungan desa.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam program BBK 7 Belajar Bersama Komunitas untuk menghadirkan solusi berbasis edukasi melalui kegiatan PEKA ONLINE (Peduli Keamanan Aktivitas Online). Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Babatkumpul, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, pada Jumat (9/1), dengan tujuan meningkatkan kesadaran serta kewaspadaan masyarakat terhadap risiko kejahatan digital yang terus berkembang.

Bertempat di Balai Desa Babatkumpul, kegiatan ini menyasar masyarakat secara langsung dengan memanfaatkan agenda pertemuan rutin PKK. Dari total 60 anggota yang terdaftar, sebanyak 56 orang hadir mengikuti kegiatan, menunjukkan tingginya minat dan kepedulian masyarakat terhadap isu keamanan digital. Kehadiran peserta yang hampir menyeluruh menjadi indikasi bahwa ancaman penipuan online telah dirasakan secara nyata di tingkat komunitas.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa UNAIR memaparkan berbagai modus penipuan digital yang kerap terjadi di masyarakat. Materi yang disampaikan meliputi phishing melalui tautan palsu, penipuan tugas berbayar, lowongan kerja fiktif, penipuan berbasis relasi melalui aplikasi kencan, hingga penyebaran file undangan digital yang berpotensi meretas akun pribadi dan layanan perbankan. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif dengan menekankan contoh kasus nyata yang dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat desa.

Pendekatan kontekstual tersebut membuka kesadaran peserta. Sejumlah masyarakat mengaku pernah menerima pesan mencurigakan dengan pola serupa, namun sebelumnya tidak menyadari bahwa pesan tersebut merupakan bagian dari modus penipuan digital. Melalui kegiatan ini, masyarakat mulai memahami ciri-ciri penipuan online serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, seperti tidak sembarangan mengklik tautan, memverifikasi informasi, dan menjaga kerahasiaan data pribadi.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Selain aktif menyimak pemaparan materi, masyarakat terlibat dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas pengalaman pribadi serta strategi menghadapi potensi penipuan digital. Untuk mengukur tingkat pemahaman, kegiatan ditutup dengan kuis evaluasi sederhana. Seluruh peserta mampu menjawab pertanyaan dengan benar, yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko kejahatan siber.

Pelaksanaan kegiatan PEKA ONLINE mendapat dukungan dari pemerintah desa dan pengurus PKK Babatkumpul. Kolaborasi ini dinilai penting dalam memperkuat peran desa sebagai garda terdepan dalam edukasi literasi digital, sekaligus mendorong keberlanjutan upaya pencegahan penipuan online di tingkat komunitas.

Kader PKK Desa Babatkumpul, mengatakan, “ Ibu berharap melalui kegiatan sosialisasi ini, masyarakat Babatkumpul dapat mengenali modus-modus penipuan yang beredar, semoga dengan adanya acara ini (Sosialisasi PEKA ONLINE) seluruh warga, terutama Ibu-Ibu yang gaptek (gagap teknologi) tidak mudah percaya link-link  yang disebarkan.” Ibu Kepala Desa juga menambahkan, “Terima kasih banyak ya, Nak untuk sharing ilmu dan hadiahnya.”

Melalui program ini, mahasiswa Universitas Airlangga berkontribusi dalam meningkatkan literasi digital masyarakat desa, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Edukasi keamanan digital diharapkan tidak berhenti pada peserta kegiatan, tetapi juga diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar sebagai langkah kolektif untuk menekan risiko kejahatan siber di wilayah pedesaan.

Penulis: Mahasiswa BBK 7 UNAIR