Stres panas telah lama menjadi tantangan besar bagi peternakan ayam broiler, terutama di daerah dengan suhu tinggi. Saat suhu lingkungan meningkat, ayam broiler sering kali kesulitan menjaga suhu tubuh mereka tetap stabil. Akibatnya, konsumsi pakan menurun, fungsi usus terganggu, dan metabolisme tubuh menjadi kurang efisien. Masalah ini tidak hanya berdampak buruk pada kesejahteraan ayam, tetapi juga menyebabkan kerugian finansial bagi peternak. Namun, sebuah solusi potensial kini muncul: N-asetil-L-sistein (NAC), senyawa dengan sifat antioksidan yang menjanjikan.
Peneliti dari Universitas Ghent dan Universitas Airlangga baru-baru ini menguji pengaruh NAC yang diberikan melalui air minum pada ayam broiler yang mengalami stres panas. NAC, sebagai turunan stabil dari L-sistein, mudah diserap tubuh dan mampu meningkatkan sintesis glutation, yaitu antioksidan penting yang melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Dalam penelitian ini, sebanyak 300 ayam broiler Ross 308 jantan dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok termonetral (TN), kelompok stres panas tanpa NAC (HS), dan kelompok stres panas yang menerima NAC (HS+NAC) dengan konsentrasi 1000 mg/L.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres panas secara signifikan mengurangi berat badan harian rata-rata (ADG), konsumsi pakan, dan memperburuk integritas usus. Pada kelompok HS dan HS+NAC, kadar fluorescein isothiocyanate-dextran (FITC-d) dalam serum meningkat, yang menunjukkan kerusakan struktur usus. Selain itu, kadar malondialdehid (MDA), indikator stres oksidatif, juga meningkat di mukosa ileum. Namun, pemberian NAC tidak berhasil secara signifikan meningkatkan parameter pertumbuhan seperti ADG atau efisiensi pakan (FCR).
Meskipun begitu, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang mekanisme molekuler yang dipengaruhi oleh NAC. Ditemukan bahwa NAC dapat menurunkan ekspresi gen cystathionine beta-synthase-like (CBSL) di hati, yang mungkin berkontribusi pada penghematan metionin. Ini menunjukkan bahwa NAC memiliki potensi untuk memodulasi metabolisme asam amino sulfur (SAA), meskipun dampaknya pada performa keseluruhan ayam broiler masih terbatas.
Penemuan ini menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut untuk menemukan cara yang lebih efektif dalam pemberian NAC. Stabilitas NAC dalam air minum dan interaksinya dengan kondisi lingkungan perlu ditingkatkan agar manfaatnya dapat dioptimalkan. Sementara itu, strategi yang lebih komprehensif, seperti manajemen lingkungan yang lebih baik dan formulasi pakan yang disesuaikan, juga diperlukan untuk mengatasi tantangan stres panas ini.
Stres panas memang menjadi tantangan besar bagi dunia peternakan, tetapi penelitian ini memberikan secercah harapan. Dengan pengembangan strategi yang lebih baik, kesejahteraan dan produktivitas ayam broiler di bawah tekanan lingkungan ekstrem dapat ditingkatkan, membawa keuntungan tidak hanya bagi peternak, tetapi juga bagi industri peternakan secara keseluruhan.
Herinda Pertiwi, DVM., MSc.





