Universitas Airlangga Official Website

Ekonom UNAIR Tanggapi Tren Angka Kelahiran yang Terus Menurun di Negara Maju

Ilustrasi: Kompas TV

UNAIR NEWS – Resesi seks adalah sebuah istilah untuk menerangkan penurunan angka kelahiran di suatu negara. Resesi seks tersebut sering terjadi di beberapa negara maju, seperti Jepang dan Singapura. Melalui kacamata ekonomi, apa saja penyebab terjadinya resesi seks di negara maju?

Ekonom UNAIR Dr Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD memberikan tanggapan terkait alasan terjadinya resesi seks atau penurunan angka kelahiran. Saat ini angka kelahiran global adalah berada di angka 2,3 anak per perempuan. Artinya, setiap perempuan bisa melahirkan dua hingga tiga anak. Namun di Jepang angka kelahiran berada di tingkat 1,3, sedangkan di Singapura sebesar 1,12.

“Tren angka kelahiran global bukan hanya tahun ini saja bahkan sejak satu hingga dua dekade ini trennya di negara maju terus menurun,” terangnya.

Faktor Ekonomi sebagai Faktor Utama

Menurut dosen Ilmu Ekonomi UNAIR itu, secara ekonomi biaya hidup di negara maju tergolong mahal. Pertimbangan ekonomi menjadi faktor utama yang menyebabkan masyarakat di negara maju mengurangi angka kelahiran. 

“Secara umum, kemampuan seorang individu untuk membiayai kehidupan di sana sangat  tinggi, sehingga semakin banyak jumlah keluarga akan meningkatkan biaya hidup juga,” tuturnya.

Bagi keluarga yang hidup di negara maju, semakin banyak anak maka semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan. Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi keluarga yang penghasilannya berada di tingkat rata-rata atau di bawah rata-rata.

“Hal ini tentunya mengurangi hasrat untuk menambah jumlah anggota keluarga. Apalagi kemarin ditambah dengan kondisi pandemi ini mereka juga khawatir terkait kesehatan,” imbuhnya.

Penurunan angka kelahiran memang disengaja oleh sebagian besar kalangan masyarakat di negara maju, terutama Jepang dan Singapura. Dengan menambah anak, Akan ada biaya tambahan yang dikeluarkan seperti biaya untuk jasa babysitter.

“Di beberapa kalangan, biaya sewa babysitter mahal, sehingga banyak ibu yang berhenti bekerja,”  ucapnya.

Saat ibu berhenti bekerja, sumber penghasilan keluarga hanya dari suami. Mereka akan mempertimbangkan dan memikirkan antara penerimaan dan pengeluaran rumah tangga yang harus dibayar setiap bulannya.

Bahkan di Jepang, lanjutnya, cuti hamil dan cuti melahirkan tidak dikenal. Jadi, jika ada yang cuti karena melahirkan, sudah langsung dipecat selamanya oleh perusahaan.

“Di Indonesia lebih humanis, ya. Masih ada waktu cuti hamil dan melahirkan sekitar tiga bulan. Kalau di Jepang, cuti melahirkan berarti berhenti selamanya,” jelasnya. (*)

Penulis :  Sandi Prabowo

Editor :  Binti Q Masruroh