Universitas Airlangga Official Website

Ekonomi Informal Indonesia, Tenaga Kerja yang Tersembunyi

Ilustrasi pekerja informal (Foto: Kompas.id)
Ilustrasi pekerja informal (Foto: Kompas.id)

Ekonomi informal sering kali terlihat namun tak benar-benar diperhatikan. Meski begitu, sektor ini adalah tulang punggung tenaga kerja di Indonesia. Dari pedagang kaki lima yang menjajakan makanan sejak subuh, pekerja rumah tangga yang diam-diam mengurus segala kebutuhan keluarga, hingga petani kecil yang menggarap lahan mereka sendiri. Pada Februari 2023, 59,2% tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor informal. Mereka menyumbang lebih dari separuh lapangan kerja di Indonesia; menggerakkan ekonomi lokal dan bergantung pada pekerjaan yang tidak terikat jaminan formal.

Namun di balik angka-angka tersebut, tersembunyi kenyataan pahit. Pekerja informal kerap tidak memiliki perlindungan sosial seperti asuransi kesehatan, jaminan pensiun, atau penghasilan yang stabil. Apa artinya menjadi mesin penggerak ekonomi yang tidak terlihat? Dan apa yang terjadi jika mesin ini terganggu?

Tulang Punggung Tenaga Kerja di Pedesaan

Ekonomi informal di Indonesia merupakan jaringan kompleks yang menopang kehidupan sehari-hari, mulai dari kota-kota besar yang sibuk hingga desa-desa terpencil. Data dari 2018 hingga 2023 menunjukkan bahwa proporsi pekerja informal di pedesaan rata-rata selalu di atas 50%, jauh lebih tinggi dibandingkan proporsi di perkotaan yang berada di sekitar angka 40%.

Fenomena ini menyoroti tantangan besar: terbatasnya akses pekerjaan formal di pedesaan. Ketergantungan masyarakat desa pada sektor informal menegaskan pentingnya sektor ini sebagai penopang ekonomi. Namun, hal ini juga mencerminkan perlunya menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas untuk mendukung stabilitas ekonomi pedesaan.

Di balik statistik ekonomi informal, terdapat cerita tentang manusia yang berjuang. Siti, seorang pedagang kaki lima lulusan SMP, bangun dini hari untuk berjualan meski penghasilannya tak menentu. Atau Agus, pengemudi ojek online lulusan SMA, bermimpi menyekolahkan anaknya hingga jenjang tinggi. Kisah-kisah ini menggambarkan sisi lain dari pekerjaan informal: kebebasan untuk mengatur waktu sendiri, tetapi dibayar dengan ketidakpastian masa depan.

Data menunjukkan bahwa sektor informal didominasi oleh pekerja berpendidikan rendah. Lebih dari 40% berasal dari mereka yang berpendidikan setingkat atau kurang dari SD, diikuti SMP, SMA, dan yang paling kecil adalah diploma serta universitas. Bagi mereka yang tidak mengakses pendidikan tinggi, sektor informal menjadi pilihan utama meski berisiko ketidakstabilan. Kisah seperti Siti dan Agus menggambarkan perjuangan ini, di mana keterbatasan akses pendidikan mempersempit peluang mereka mendapatkan pekerjaan formal.

Walaupun berkontribusi besar, ekonomi informal menghadirkan tantangan serius. Pekerja di sektor ini harus menghadapi keterbatasan sistemik: tanpa jaminan pensiun, asuransi kesehatan, atau penghasilan stabil. Pendapatan mereka sering kali jauh di bawah rata-rata. Data menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, semakin rendah pula pendapatan yang diperoleh. Mereka yang tidak tamat SD memiliki pendapatan paling rendah, sementara pekerja dengan pendidikan SMA ke atas mendapat penghasilan yang lebih baik.

Ketimpangan ini menunjukkan bagaimana pendidikan di Indonesia mempengaruhi kemampuan pekerja untuk mengakses pekerjaan yang lebih baik, meskipun mereka bekerja keras di sektor informal. Bagi mereka yang terjebak dalam lingkaran pendidikan rendah, pekerjaan informal menjadi pilihan utama meski dengan penghasilan yang jauh dari memadai. Tantangan ini menegaskan perlunya upaya menyeluruh untuk memperbaiki akses pendidikan dan stabilitas pekerjaan.

Pemerintah berusaha mengatasi masalah ini dengan kebijakan yang mendorong penyerapan tenaga kerja, seperti memberikan insentif pajak bagi investor yang memberi pelatihan kepada pekerja domestik. Selain itu, sektor teknologi dan digital dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada sektor informal, misalnya dengan platform kerja berbasis teknologi yang menawarkan perlindungan sosial. Penguatan sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan skala keluarga juga menjadi salah satu jalan keluar untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas. Namun, upaya ini membutuhkan pendekatan terpadu agar benar-benar menjembatani kesenjangan antara informalitas dan stabilitas pekerjaan.

Ekonomi informal bukan hanya soal tenaga kerja—ini adalah cerminan dari masa depan Indonesia. Para pekerja informal, meskipun sering diabaikan, adalah bagian penting dari struktur sosial dan ekonomi negara. Memberikan dukungan kepada mereka bukan hanya soal keadilan, tetapi juga kunci pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Bayangkan Indonesia di mana pekerja informal memiliki stabilitas dan kesempatan, di mana mereka dapat membangun masa depan dengan percaya diri. Untuk mewujudkannya, langkah pertama adalah mengakui peran dan perjuangan mereka. Memastikan sektor informal berkembang dengan dukungan yang memadai adalah langkah penting untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan. Apakah Indonesia siap menjawab tantangan ini?

Penulis: Rachel Sunarko, Mahasiswa FTMM UNAIR