Warfarin merupakan antikoagulan antagonis vitamin K, digunakan untuk mencegah dan mengobati masalah tromboembolik yang terkait dengan fibrilasi atrium tromboembolisme vena, penyakit katup jantung, stroke kardioembolik dan infark miokard akut. Untuk menjamin efektivitas dan keamanannya, penggunaan antikoagulan harus dipantau secara ketat, dikarenakan warfarin memiliki indeks terapi sempit yang meningkatkan risiko efek samping perdarahan, terutama pada awal pengobatan.
Penelitian bertujuan menganalisis insiden efek samping warfarin pada pasien rawat jalan di satu rumah sakit. Digunakan data retrospektif Maret-Mei 2023, dikumpulkan data usia, jenis kelamin, durasi terapi warfarin, komorbid, INR dan kejadian efek samping perdarahan. insiden efek samping.
Hasil menunjukkan dari 88 pasien sampel penelitian, 42,7% mengalami efek samping berupa perdarahan (dengan 126 kejadian). Efek samping mencakup perdarahan gusi 22,3%, hematoma 20,4%, melena 7,7%, menometroragia 2,4%, epitaksis 1,9%, hematuria 1,5%, hematemesis 1,0%. Perdarahan vena spontan 1,0%, hematochezia 0,5%, hemostasis selama pengambilan sampel darah 0,5%, perdarahan lidah 0,5% dan perdarahan subconjunctiva 0,5%.
Disimpukan insiden efek samping selama pengobatan warfarin tinggi, yaitu sekitar 42,7% kasus. Selain itu, satu pasien mengalami lebih dari satu efek samping.
Penulis: Prof. Dr. Budi Suprapti, dra., M.Si.





