Latihan fisik intensitas tinggi, dapat menyebabkan kerusakan otot, yang disebut exercise induced muscle damage (EIMD). EIMD memicu proses keradangan sehingga dapat menimbulkan nyeri otot dan hambatan dalam bergerak atau penurunan Range of Motion (ROM). Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa puncak nyeri otot sekitar 24 jam setelah berolahraga, yang akhirnya diikuti dengan penurunan ROM. Hal tersebut dapat mengurangi kinerja dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Fenomena saat ini, obat anti radang atau anti inflamasi nonsteroid (NSAID) digunakan untuk meredakan nyeri. Namun di sisi lain, NSAID ini dapat mengganggu efek yang diinginkan dengan berolahraga seperti pertumbuhan otot dan meningkatkan kekuatan otot. Oleh karena itu, diperlukan upaya lain untuk menanggulangi nyeri akibat berolahraga berat, salah satunya adalah pemberian ekstrak Curcumin atau kunyit. Curcumin terkenal dengan senyawa aktifnya yang memiliki aktivitas antiinflamasi.
Untuk membuktikan hal tersebut, telah dilakukan penelitian eksperimen menggunakan desain pre dan post-control group design, dengan subjek penelitian 24 pria sehat berusia antara 20-30 tahun. Subjek dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang diberi ekstrak curcumin 400mg per oral dan tidak. Olahraga berat yang dilakukan adalah latihan squad dan leg press dengan intensitas 80-90% dari kemampuan maksimal. Latihan dilakukan dalam 4 set untuk setiap bentuk latihan dan istirahat antar set selama sekitar 1 menit. Keesokan harinya, dilakukan pengukuran nyeri dan ROM, serta diberikan ekstrak curcumin dan placebo sesuai kelompok-nya.
Hasil penelitian ini diketahui bahwa kelompok yang diberi kurkumin terjadi penurunan nyeri dan peningkatan ROM yang bermakna dibandingkan dengan kelompok yang diberi plasebo. Dalam kasus kerusakan otot akibat olahraga atau EIMD, sebuah studi histologis menunjukkan bahwa sel darah putih neutrofil memasuki otot yang menjadi target area radang dan menumpuk di daerah yang rusak tersebut mulai 1 hingga 24 jam setelah latihan. Selain itu, EIMD ditandai dengan gangguan ultra-struktural otot yang meningkatkan pelepasan sitokin inflamasi oleh makrofag yang merupakan sel penjaga di jaringan.
Neutrofil dan sitokin yang memicu keradangan (proinflamasi) berinteraksi satu sama lain bertujuan untuk mengontrol respons keradangan ketika terjadi kerusakan otot. Di sisi lain, ketika sitokin pro-inflamasi meningkat, makrofag juga melepaskan sitokin antiinflamasi yang berkontribusi pada pemulihan dan regenerasi otot.
Dari literatur diketahui bahwa sitokin yang dapat mengakibatkan nyeri adalah adanya peningkatan sitokin pro-inflamasi yang tidak terkendali seperti TNF-a dan IL-6. Nyeri yang muncul dapat memicu penurunan keluasaan bergerak atau penurunan ROM selama beberapa hari setelah berolahraga. Studi sebelumnya telah melaporkan bahwa suplementasi dengan omega 3 yang dikenal karena sifat antiinflamasinya, dapat mengurangi kadar TNF-a setelah latihan beban.
Dalam hal ini, kurkumin juga merupakan salah satu bahan alami yang memiliki aktivitas anti-inflamasi. Sebuah studi literatur yang lain menyebutkan bahwa kurkumin yang diberikan pada dosis lebih dari 180 mg/hari mampu menekan sekresi sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-6, IL-8, IL17, dan TNF-a.
EIMD sebagai salah satu efek olahraga berat yang kemudian mengakibatkan nyeri dan penurunan ROM, dari studi lain menyampaikan ada korelasi penurunna ROM dengan penurunan kekuatan otot. Oleh karena itu, mempercepat pemulihan setelah EIMD dapat memaksimalkan nilai latihan yang berkaitan dengan pertumbuhan otot dan peningkatan kekuatan otot, meskipun pada penelitian ini belum dilakukan periksaan kekuatan otot, sehingga menjadi keterbatasan dalam penelitian ini. Untuk mempercepat pemulihan akibat EIMD, pemberian ekstrak kurkumin dengan dosis 400 mg per oral setelah olahraga berat, dapat menjadi solusi untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan ROM akibat olahraga berat.
Penulis: Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes.
Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link:





