Candidiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh khamir / yeast dari genus Candida. Candidiasis dapat terjadi pada kulit, jaringan mukosa (kandidiasis oral, esofagus, dan vulvovaginal), atau secara sistemik dengan menginvasi aliran darah. Spektrum klinis kandidiasis bervariasi dari infeksi kulit yang ringan hingga Candidemia (infeksi aliran darah), abses otak, dan endokarditis (infeksi lapisan dalam jantung) yang dapat mengancam nyawa. Terdapat 1.000.000.000 kasus candidiasis kulit dan 130.000.000 candidiasis mukosa. Selain itu, diperkirakan candidiasis sistemik menyerang 750.000 orang per tahun dengan angka kematian 40%-55%, terutama pada pasien dengan faktor risiko seperti imunodefisiensi, usia lanjut, paparan antibiotik spektrum luas, kemoterapi kanker, transplantasi organ, atau dalam pengaturan perawatan intensif.
Candida albicans, patogen oportunistik yang juga merupakan bagian dari mikroflora normal manusia, adalah agen penyebab paling umum dari candidiasis. C. albicans merupakan pernyebab > 90% dari kasus candidiasis mukosa dan > 40% dari kasus candidiasis invasif di berbagai negara. Terapi untuk infeksi C. albicans umumnya menggunakan obat antijamur seperti poliena, azoles, echinocandins, dan 5-Flucytosine (5FC). Sayangnya, seperti dalam kasus antibiotik untuk infeksi bakteri, terdapat peningkatan kasus C. albicans yang resisten terhadap antijamur karena penggunaan obat antijamur secara ekstensif dan tidak terkontrol. Dengan demikian penemuan agen anti-candida alternatif sangat penting.
Tanaman Obat Indonesia Sebagai Penghasil Senyawa Anti-Candida
Salah satu penghasil alternatif senyawa anti-candida adalah tumbuhan. Beberapa spesies tanaman menghasilkan metabolit sekunder dengan aktivitas anti-candida, seperti terpen, terpenoid, dan senyawa aromatik. Terpen diketahui dapat menghambat pertumbuhan sel, dan menginduksi penghentian siklus sel jamur termasuk C. albicans. Terpenoid diketahui dapat mengganggu integritas membran sel C. albicans. Sedangkan eugenol yang merupakan senyawa aromatik dapat membunuh sel C. albicans dengan mengganggu morfologi dan fungsi membrannya sehingga menyebabkan stres oksidatif.
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki beragam tanaman obat yang secara tradisional digunakan untuk mengobati infeksi C. albicans seperti tanaman dari keluarga Zingiberaceae, yaitu Alpinia galanga (lengkuas), Curcuma longa (kunyit), dan Curcuma xanthorrhiza (temulawak), Tanaman tersebut menghasilkan metabolit sekunder anti-kandida seperti terpenoid (mis: xanthorrhizol dan kurkumenol) dan senyawa aromatik (mis: flavonoid dan kurkumin). Contoh lain adalah Syzygium aromaticum L. (cengkeh), tanaman asli Indonesia yang senyawa bioaktif utamanya adalah eugenol.
Efek Anti-Candida Ekstrak Tanaman Obat Indonesia
Senyawa bioaktif dari tanaman obat harus diekstraksi terlebih dahulu untuk dimanfaatkan sebagai obat anti-candida. Dalam proses ekstraki pelarut smemegang peranan yang sangat penting. Metanol merupakan pelarut yang efektif untuk mengekstrak senyawa anti-candida seperti terpenoid, flavonoid, dan polifenol. Selain itu, metode maserasi dalam ekstraksi dapat mencegah kerusakan senyawa aktif tanaman, terutama yang tidak tahan panas.
Dalam penelitian yang dilaporkan dalam Frontiers in Bioscience-Landmark ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti-candida dari ekstrak metanol 11 tanaman obat Indonesia, yaitu buah cengkeh, umbi serai, serta rimpang temu kunci, temu hitam, kunyit, temu giring, temulawak, kunyit putih, bangle, jahe merah, dan jahe putih.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini mengkonfirmasi aktivitas anti-candida ekstrak metanol dari 11 tanaman obat tropis dari Indonesia terhadap Candida albicans ATCC 10231. Ekstrak metanol dari rimpang kunyit, temulawak, dan jahe merah menunjukkan aktivitas penghambatan paling tinggi bahkan dari konsentrasi paling rendah yang diujikan (25 mg/ml). Bahkan dalam konsentrasi terebut kunyit dan jahe merah menunjukkan aktivitas anti-candida yang lebih tinggi dari Nistatin, suatu obat anti jamur komersial. Selain itu juga ditentukan nilai konsentrasi terendah di mana ekstrak tanaman bisa menghambat (MIC) dan membunuh (MFC) C. albicans. Dari 11 ekstrak metanol yang diujikan, ekstrak metanol umbi serai, serta rimpang temulawak, temu hitam, dan jahe merah memiliki nilai MIC dan MFC terendah (3.91 mg/ml).
Prospek Masa Depan dan Kelanjutan Riset terkait Akivitas Anti-Candida Ekstrak Tanaman Obat Indonesia
Nilai MIC dari penelitian ini dapat digolongkan sebagai nilai yang sedang hingga rendah, jika dibandingkan dengan penelitian serupa lainnya. Perbedaan aktivitas anti-candida dari penelitian sebelumnya mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tanah dan iklim di mana bahan tanaman diambil sampelnya. Penelitian lebih lanjut terhadap kandungan kimia ekstrak dan uji sitotoksisitas terhadap sel mamalia dan hewan uji diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut ekstrak tumbuhan sebagai komponen obat antikandida dan suplemen kesehatan.
Walaupun menunjukkan hasil yang menjanjikan, hasil penelitian ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati, karena penelitian ini hanya menguji satu galur C. albicans. Strain C. albicans yang berbeda dapat memberikan hasil yang berbeda karena perbedaan sensitivitasnya terhadap ekstrak metanol tanaman obat. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan menggunakan strain C. albicans lainnya, termasuk yang diperoleh dari pasien (strain klinis), akan diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih besar tentang aktivitas anti-candida ekstrak tumbuhan pada C. albicans. Secara umum, hasil penelitian ini sangat penting untuk pengembangan suplemen makanan dan obat anti-candida di masa depan.
Penulis: Almando Geraldi, S.Si., Ph.D.
Judul: Tropical Medicinal Plant Extracts from Indonesia as Antifungal Agents against Candida Albicans
Link: https://www.imrpress.com/journal/FBL/27/9/10.31083/j.fbl2709274/htm





