UNAIR NEWS – Dalam dunia bisnis modern, keuntungan finansial saja tidak lagi cukup. Perusahaan wajib mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, science, dan governance (ESG) agar dapat bertahan dan berkontribusi positif. Isu krusial ini dibahas tuntas dalam seminar nasional bertajuk “From Paper to Power: The Inspiring Grind to Transform Business Strategy into Lasting, Sustainable Impact”. Seminar tersebut diselenggarakan Center of Excellence for Sustainable Business (CESGS) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Rabu (10/12/2025) di Aula Majapahit Lantai 5, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B.
Bisnis Berkelanjutan Wajib Berpandangan ESG
Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR Novrys Suhardianto, SE MSA Ak PhD menekankan bahwa saat ini sudah waktunya bagi perusahaan dan pelaku bisnis untuk mengadopsi visi keberlanjutan dan ESG. Menurutnya, bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.
“Kita harus melihat bisnis yang berkelanjutan dan bervisi ESG,” tegasnya. Ia mencontohkan, masalah lingkungan yang terjadi di beberapa wilayah. Seperti di Sumatra, disinyalir karena pemerintah dan pihak swasta belum sepenuhnya mengintegrasikan visi ESG dalam pengelolaan perusahaannya.

Melalui seminar ini, ia berharap peluang bisnis ke depan akan semakin banyak yang menerapkan visi ESG dan berkelanjutan. Sehingga tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi alam dan lingkungan.
Dampak Signifikan ESG dan Sinerginya dengan Green Industrial
Tidak hanya itu, Prof Dr Bambang Tjahjadi SE MBA Ak CMA CPM CA selaku pembicara selanjutnya memaparkan pentingnya ESG yang ternyata memiliki dampak signifikan bagi kinerja dan reputasi perusahaan. Konsep Green Industrial, lanjutnya, sangat selaras dengan prinsip-prinsip ESG. Ia juga menjelaskan bahwa dalam ESG terdapat konsep 3P, yaitu People, Planet, dan Profit. Penerapan ESG memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya di internal, seperti pengelolaan air.
Lebih lanjut, selaras dengan komponen Environment dalam ESG, perusahaan dapat memaksimalkan upayanya melalui pengelolaan sampah, limbah, air, dan pemanfaatan solar panel. Selain dampak internal, penerapan ESG juga krusial dalam membangun kepercayaan konsumen. Konsumen modern semakin peduli dan ingin memahami arah serta komitmen sosial dan lingkungan dari perusahaan atau industri yang mereka dukung.
Meskipun dampaknya besar, Prof Bambang mengakui bahwa tidak semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang ESG. Sehingga ada tantangan dalam implementasinya. “Kita harus akui, tidak semua stakeholder memiliki pemahaman yang sama mengenai ESG, dan di situlah letak tantangan terbesar implementasinya,” pungkasnya.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





