Pada tahun 2012, sekitar 952.000 orang menderita kanker lambung dengan jumlah kematian sekitar 720.000 secara global. Meskipun banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan perkembangan kanker lambung, infeksi Helicobacter pylori dianggap sebagai faktor utama dalam proses inisiasi kanker lambung. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa 2,9% kejadian kanker lambung terjadi pada orang yang terinfeksi H. pylori. Sementara itu, tidak ada karsinoma yang berkembang pada orang yang tidak terinfeksi. Studi lain juga menemukan bahwa sekitar 62,18% pasien kanker lambung positif terinfeksi H. pylori. Meskipun infeksi H. pylori dianggap sebagai agen penyebab perkembangan kanker lambung, beberapa penelitian yang menggunakan model hewan coba gagal untuk menunjukkan itu.
Penggunaan model hewan coba untuk penelitian kanker lambung manusia masih penting digunakan sebagai alat untuk meniru karakteristik fisiologis biologi tumor walaupun keakuratannya masih dipertanyakan. Penggunaan model hewan coba bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara dugaan onkogen dan patogenesis serta menghasilkan model untuk pengembangan dan pengujian pengobatan potensial. Berdasarkan gambaran tersebut, tim peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil kajian pustakanya di salah satu jurnal internasional terkemuka, yaitu Helicobacter. Pencarian literatur yang komprehensif dan sistematis dilakukan selama bulan Juni–Desember 2021 pada basis data ilmiah seperti PubMed, ScienceDirect, dan Cochrane. Pada tahap awal pengumpulan literature didapatkan 5537 artikel. Selanjutnya, dilakukan pemilihan berdasarkan kesesuaian judul, isi abstrak, dan substansi maka didapatkan total akhir 135 artikel.
Hasil penelitian menunjukkan infeksi H. pylori pada tikus kebanyakan menyebabkan peradangan dan gastritis. Namun, jarang menyebabkan hiperplasia, metaplasia, displasia, bahkan adenokarsinoma. Model hewan yang paling sering digunakan untuk kanker lambung adalah tikus, sedangkan gerbil Mongolia dan tikus transgenik adalah model yang paling rentan untuk kanker lambung yang terkait dengan infeksi H. pylori. Selain itu, tikus transgenik menunjukkan bahwa kerentanan terhadap perkembangan kanker lambung disebabkan oleh faktor genetik dan epigenetik. Studi ini menunjukkan bahwa pada model gerbil Mongolia, H. pylori dapat berfungsi sebagai agen tunggal untuk memicu kanker lambung. Namun, sebagian besar kerentanan kanker lambung tidak semata-mata bergantung pada infeksi H. pylori. Banyak faktor yang terlibat dalam perkembangan kanker. Studi lebih lanjut menggunakan Gerbil Mongolia dan tikus transgenik sangat penting dilakukan untuk menetapkan model hewan coba terbaik kaitannya dengan kanker lambung akibat H. pylori.
Selain model hewan coba diatas, ada beberapa model hewan coba lainnya yang juga digunakan untuk meneliti keterkaitan infeksi H. pylori dengan kejadian kanker lambung yaitu: babi guinea, hewan pengerat, dan primata non-manusia seperti simpanse, kera makaka, dan kera rhesus. Penelitian pada primata non-manusia menunjukkan bahwa inflamasi dan gastritis akibat infeksi H. pylori muncul pada tahap awal penyakit (kurang dari 1 tahun) dan setelah lima tahun terjadi neoplasia serta inokulasi sel kanker. Penelitian lainnya yaitu pada babi menunjukkan bahwa kondisi patologis yang beragam muncul akibat H. pylori infeksi.
Selain menunjukkan efek patologis, penelitian dengan hewan coba juga dapat mengidentifikasi peran diet terhadap perkembangan kanker lambung. Penelitian pada Mongolia gerbil dan tikus transgenik menunjukkan bahwa faktor asupan tinggi garam meningkatkan risiko kanker lambung. Selain itu, adanya resistensi insulin dan defisiensi zat besi juga akan memicu akumulasi lemak, peradangan, dan karsinogenesis.
Model hewan coba yang tepat yang dapat meniru ciri khas infeksi pada manusia diperlukan untuk menyelidiki perkembangan penyakit, penilaian terapeutik, hasil pengobatan, dan pengembangan vaksin. Pengembangan penelitian tentang model hewan coba akan secara signifikan meningkatkan pemahaman tentang perkembangan kanker lambung. Ketika faktor lingkungan berkontribusi pada konsekuensi klinis, H. pylori telah diidentifikasi sebagai pemicu kanker lambung yang signifikan. Gerbil Mongolia dan tikus transgenik telah menjadi model utama dalam penelitian model hewan coba untuk memahami kanker lambung terkait H. pylori. Keduanya adalah satu-satunya model hewan yang dapat menunjukkan bahwa kanker lambung dapat diinduksi oleh faktor tunggal yaitu H. pylori.
Penulis: Muhammad Miftahussurur
Artikel dapat diakses pada: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/hel.12943





