Universitas Airlangga Official Website

Faktor Pendidikan, Teman Sebaya, dan Akses Informasi Meningkatkan Perilaku Merokok

Ilustrasi rokok. (Sumber: Okezone Lifestyle)


Merokok merupakan penyebab utama penyakit dan kematian di seluruh dunia. Secara global, penggunaan tembakau dapat menyebabkan penyakit kesehatan seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru. Permasalahan konsumsi rokok di Indonesia sangat memprihatinkan. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi merokok setiap hari pada penduduk berusia >10 tahun selama 1 bulan terakhir sebesar 22,46%. Kebanyakan penduduk mencoba merokok pertama kali pada saat remaja. Menurut Survei Kesehatan Indonesia, tahun 2023, proporsi umur pertama kali merokok tertinggi pada usia 15-19 tahun, yaitu sebesar 56,5%. Penelitian dengan menggunakan Global Tobacco and Youth Report (GYTS) Indonesia tahun 2019 menunjukkan bahwa laki-laki memiliki persentase perokok aktif lebih besar dibandingkan perempuan. Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan gejolak emosi dan ketidakseimbangan dalam upaya mencapai identitas yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Masa remaja adalah periode penting dalam perkembangan seseorang, dimana kebiasaan dan perilaku mulai terbentuk. Jika kebiasan dan perilaku tersebut diarahkan ke perilaku merokok, maka akan mempengaruhi mereka di masa depan dan juga berdampak pada beban negara karena beberapa bukti menunjukkan bahwa tingginya jumlah perokok di Indonesia telah mengakibatkan banyak kerugian di bidang kesehatan dan ekonomi.
Penelitian kami pada laki-laki yang berusia 15-24 tahun di Indonesia, menemukan bahwa remaja laki-laki yang berpendidikan yang lebih rendah meningkatkan risiko untuk merokok saat ini. Selain itu, remaja laki-laki yang mulai merokok di usia remaja, dipengaruhi oleh teman untuk merokok dan menggunakan internet minimal 1 kali seminggu juga meningkatkan risiko remaja untuk merokok saat ini. Tidak hanya itu, remaja laki-laki yang tidak mempunyai akses ke media massa seperti majalah/korang juga meningkatkan risiko merokok.
Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan inisiatif guna meningkatkan kesadaran publik dan menerapkan undang-undang pengendalian tembakau yang lebih ketat, khususnya pada populasi remaja. Sebagai bentuk investasi untuk kesehatan generasi mendatang, berbagai upaya harus dilakukan untuk melindungi anak-anak dari kebiasaan merokok dan risiko terkait tembakau lainnya.
Penulis:
Putri, D. R., Astutik, E., Machmud, P. B., & Tama, T. D. (2024). Male adolescents’(Aged 15-24 years) smoking habit and its determinant: analysis of Indonesia demographic and health survey data, 2017. African Health Sciences, 24(4), 362-372.