Universitas Airlangga Official Website

Faktor Risiko Terjadinya Fistula Rektovaginal dan Ukuran Fistula Rektovaginal

Fistula rektovagina adalah saluran abnormal yang menghubungkan rektum dan vagina, yang berasal dari rektum dan meluas ke dalam vagina. Saluran abnormal ini terbentuk karena celah antara rektum dan vagina, memungkinkan gas dan tinja berpindah dari rektum ke vagina. Kesenjangan muncul ketika integritas dinding terganggu melalui peradangan, infeksi, atau proses neoplastik yang terjadi di rektum atau vagina. Akibatnya, jaringan atau organ yang berdekatan di dinding rektum atau vagina mengalami erosi, membentuk koneksi abnormal. Kondisi yang terkait dengan fistula rektovaginal menunjukkan gejala abnormal seperti keputihan berbau busuk, nyeri atau dispareunia, keluarnya cairan tinja yang jelas selama diare, dan pendarahan. Aliran gas dan tinja yang terus menerus memperlebar diameter fistula, mengandung bakteri dan zat berbahaya bagi tubuh, yang menyebabkan iritasi dan infeksi pada vagina dan saluran kemih. Meskipun beberapa gejala ringan, mengelola fistula memerlukan pertimbangan berbagai faktor, termasuk diameter, panjang, etiologi, dan lokasi.

Fistula rektovagina lazim di kalangan wanita di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. Diperkirakan 50.000 hingga 100.000 wanita di seluruh dunia terkena fistula rektovaginal setiap tahun. Lebih dari 2 juta wanita muda diyakini hidup dengan fistula rektovaginal yang tidak diobati di Asia dan Afrika sub-Sahara. Penelitian menunjukkan bahwa fistula rektovaginal terjadi pada 1-3 dari 1000 persalinan di Afrika Barat, dengan tingkat yang sama di Kenya. Prevalensi fistula rektovaginal secara signifikan berkontribusi terhadap kematian ibu akibat distosia atau persalinan yang terhambat.

Tingginya angka kematian pada wanita dengan fistula rektovaginal di negara berkembang umumnya disebabkan oleh layanan kesehatan yang tidak memadai, kesulitan dalam mengakses perawatan kesehatan, kemiskinan, kekurangan tenaga medis, dan persepsi bahwa persalinan dapat dikelola di rumah. Fistula rektovagina menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan wanita, terutama pada remaja. Kondisi ini menyebabkan ketidaknyamanan, perasaan terisolasi, dan dapat mengurangi fungsi psikososial dan seksual pasien wanita. Sekitar 93% wanita dengan fistula rektovaginal mengalami kelahiran mati sebelum melahirkan, dan 97% menderita depresi karena gangguan mental. Di antara wanita-wanita ini, setidaknya 54% melaporkan kecenderungan bunuh diri. Selain itu, 68% wanita tidak memiliki anak yang masih hidup, 54% mengalami perceraian, 13% terasing dari keluarga mereka, dan 41% merasa dikucilkan secara social.

Etiologi yang mendasari pembentukan fistula menentukan metode penilaian, manajemen, dan prognosis. Pembentukan fistula rektovaginal umumnya diakibatkan oleh komplikasi penyakit yang mendasarinya, cedera, dan operasi. Mengelola fistula rektovaginal seringkali memerlukan intervensi bedah karena penutupan spontan tidak mungkin terjadi. Prosedur bedah untuk pasien fistula rektovaginal mencapai 99%, dengan tingkat keberhasilan 70-97% pada operasi pertama. Namun, jika operasi pertama gagal, tingkat keberhasilan menurun menjadi 40-85%. Meskipun tingkat keberhasilan 70-97%, masih ada risiko kekambuhan selama persalinan pervaginam. Oleh karena itu, wanita dengan riwayat fistula rektovaginal disarankan untuk memilih persalinan operasi Caesar. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian ini untuk mengurangi kejadian fistula rektovaginal dengan memahami secara tepat faktor dan karakteristik yang mendasari pasien fistula rektovaginal, dengan menggunakan rekam medis sebagai sumber data dari pasien fistula rektovagina di Poliklinik Uroginekologi dan Rekonstruksi RSUD Dr. Soetomo tahun 2016 hingga 2020, memungkinkan upaya pencegahan.

Pada penelitian ini, diperoleh 27 kasus yang terdiri dari 6 kasus kebidanan dan 21 kasus non-kebidanan. Pada pasien di bawah usia 30 tahun, fistula rektovaginal berukuran sedang ditemukan (100,0%). Mayoritas pasien adalah multipara (66,7%) yang memiliki fistula rektovaginal berukuran sedang dan kebanyakan dari mereka (80,0%) memiliki berat bayi normal dengan fistula rektovaginal berukuran sedang. Pada pasien dengan riwayat keganasan, mayoritas (84,6%) memiliki fistula rektovaginal berukuran sedang. Dari pasien dengan riwayat infeksi, 2 pasien (100,0%) memiliki fistula rektovaginal berukuran sedang. Dan cukup banyak pasien dengan riwayat operasi ginekologi (76,9%) memiliki fistula rektovaginal berukuran sedang.

Faktor risiko penderita fistula rektovaginal di Dr. Soetomo adalah wanita di bawah 30 tahun, memiliki paritas primipara atau multipara, dan memiliki bayi dengan berat badan normal. Sebagian besar pasien juga memiliki riwayat keganasan dan riwayat operasi ginekologi, dan sangat sedikit yang memiliki riwayat infeksi. Mayoritas fistula rektovaginal yang terbentuk dari berbagai faktor risiko yang ada berukuran sedang (0,5–2,5 cm)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Penulis:  Handini Dwi Safitri Sukma, Eighty Mardiyan Kurniawati, Ira Humairah and Gatut Hardianto. Risk factors for the incidence of rectovaginal fistula and the size of rectovaginal fistula in the urogynecology and reconstruction polyclinic of Dr. Soetomo general academic hospital in 2016-2020. Ginekologia I Poloznictwo, 2024;:(68)

https://www.ginekologiaipoloznictwo.com/articles/risk-factors-for-the-incidence-of-rectovaginal-fistula-and-the-size-of-rectovaginal-fistula-in-the-urology-and-reconstru.pdf