HIV/AIDS tetap menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, terutama di kalangan remaja dan wanita muda. Sebuah studi yang dilakukan di Indonesia mengungkapkan bahwa perilaku risiko HIV di kalangan perempuan berusia 15 hingga 24 tahun meningkat dari 80,2% pada tahun 2012 menjadi 86,2% pada tahun 2017. Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami faktor-faktor sosiodemografis yang mempengaruhi perilaku risiko ini.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Menurut data UNICEF, pada tahun 2020, terdapat 410.000 kasus baru HIV di kalangan individu berusia 10-24 tahun. Di Indonesia, tren infeksi HIV juga menunjukkan peningkatan, dengan 18,3% dari total kasus baru terjadi pada remaja usia 15-24 tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku risiko HIV di kalangan perempuan muda di Indonesia. Dengan menggunakan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017, peneliti menganalisis 23.210 responden perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku risiko HIV berkaitan erat dengan beberapa faktor sosiodemografis, termasuk usia, pendidikan, status ekonomi, dan aktivitas seksual.
- Usia: Perempuan berusia 20-24 tahun memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang berusia 15-19 tahun. Meskipun risiko ini sedikit menurun pada 2017, kelompok usia ini tetap rentan.
- Pendidikan: Tingkat pendidikan berperan penting dalam mengurangi risiko HIV. Perempuan dengan pendidikan yang lebih rendah cenderung memiliki perilaku risiko yang lebih tinggi. Pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS membantu individu dalam mengambil tindakan pencegahan yang lebih efektif.
- Status Ekonomi: Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang berasal dari keluarga kaya memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga miskin. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan ekonomi dapat mempengaruhi keputusan terkait perilaku seksual.
- Aktivitas Seksual: Perempuan yang aktif secara seksual lebih mungkin terlibat dalam perilaku risiko HIV. Ketidakkonsistenan dalam penggunaan kondom dan hubungan dengan banyak pasangan seksual menjadi faktor penyumbang utama.
Temuan ini menekankan pentingnya intervensi yang ditargetkan untuk mengurangi perilaku risiko HIV di kalangan perempuan muda. Program pendidikan seks yang komprehensif perlu diterapkan, terutama di sekolah-sekolah, untuk memberikan pengetahuan yang tepat tentang pencegahan HIV/AIDS. Selain itu, akses yang lebih baik ke layanan kesehatan harus disediakan untuk membantu perempuan dalam mendapatkan informasi dan layanan yang diperlukan.
Peningkatan perilaku risiko HIV di kalangan perempuan muda di Indonesia menjadi tantangan serius. Diperlukan pendekatan multidimensional yang mempertimbangkan faktor-faktor sosiodemografis untuk mengatasi masalah ini. Dengan meningkatkan kesadaran, pendidikan, dan akses ke layanan kesehatan, diharapkan dapat mengurangi penyebaran HIV dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Intervensi yang efektif tidak hanya akan membantu perempuan, tetapi juga masyarakat luas dalam mengendalikan epidemi HIV/AIDS di Indonesia.
Penulis: Aria Aulia Nastiti, Mira Triharini, Retnayu Pradanie, Nursalam, Nuzul Qur’aniati, Alison Hutton,  Zain Budi Syulthoni,  Hidayat Arifin
Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0882596324003786
Baca juga: Studi Retrospektif mengenai Tes Serologis Sifilis pada Pasien HIV





