Universitas Airlangga Official Website

Faktor yang Berkaitan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja Berdasarkan Teori “Becoming a Mother”

Ilustrasi oleh Hello Sehat

Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif dapat berdampak pada kualitas hidup generasi penerus bangsa dan juga pada perekonomian nasional. Menyusui merupakan salah satu langkah pertama bagi seorang manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik berdasarkan Sustainable Development Goals (SDGs).  ASI merupakan sumber nutrisi terbaik dengan komposisi bioaktif yang dapat meningkatkan status kesehatan ibu dan anak. Beberapa negara maju dan berkembang termasuk Indonesia, banyak wanita karir yang tidak menyusui secara eksklusif. Rendahnya asupan ASI secara eksklusif menjadi ancaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, yang juga akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia karena sebesar 80% perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang lebih dikenal dengan periode emas. bayi yang tidak diberikan ASI secara eksklusif, memiliki resiko 2,4 kali mengalami kematian apabila menderita ISPA dan 3,9 kali apabila menderita diare. 50% anak-anak yang tidak diberikan ASI kemungkinan mengalami keterlambatan motorik dibandingkan dengan anak yang diberikan ASI walaupun hanya 4 bulan.

Teori becoming a mother, menjelaskan bahwa interaksi antara ibu, bayi, dan ayah merupakan fokus utama dalam pusat interaksi dalam lingkungan hidup. Interaksi yang terjadi antara ibu, bayi, dan ayah akan mempengaruhi peran ibu dalam perawatan dan pengasuhan bayi, termasuk di dalamnya peran dalam pemberian ASI. Interaksi yang terjadi antara ibu dan bayi saling memberikan respon yang akan mempengaruhi peran ibu dalam memberikan ASI. Interaksi yang terjadi pada lingkungan keluarga dan teman, melibatkan faktor dari dalam diri ibu, maupun dalam diri bayi yang dapat mempengaruhi peran ibu. Faktor dalam diri ibu salah satunya adalah dukungan sosial, depresi dan keyakinan ibu. Ketiga faktor ini merupakan hal yang sangat berkaitan dalam proses perkembangan peran ibu, khususnya pada ibu yang bekerja.  

Desain penelitian ini deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi target dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja dengan bayi usia 6-12 bulan yang berjumlah 90 orang. Kriteria inklusi meliputi ibu yang memiliki anak usia 6 – 12 bulan, ibu yang kondisinya sehat secara fisik dan mental. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tempramen bayi, depresi, dukungan sosial dan keyakinan ibu. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah peran ibu dalam pemberian ASI eksklusif.  Instrumen penelitian berupa kuesioner yaitu kuisioner temperamen bayi menggunakan Infant Characteristics Questionnaire (ICQ), dukungan Sosial, Beck Depression Inventory (BDI), Maternal Confidence Quistionnaire, dan kuisioner peran ibu. 

Peneliti berkoordinasi dengan Bidan Desa dan Kader Posyandu untuk meminta data ibu menyusui dengan bayi usia 6-12 bulan meliputi nama ibu, nama bayi, tanggal lahir bayi, dan alamat dari Polindes setempat. Dalam penelitian ini, pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner kepada ibu secara bergantian dari satu rumah ke rumah lain (door to door) kepada ibu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan tahap diberikan kode khusus sebagai subjek penelitian untuk mengukur temperamen bayi, depresi pada ibu, dukungan sosial, keyakinan ibu dengan peran ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Sebelum membagikan kuisioner kepada responden, peneliti menjelaskan mengenai penelitian yang dilakukan kepada calon responden yaitu analisis faktor pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja berdasarkan teori becoming a mother kepada ibu-ibu yang bekerja dan tinggal di Desa Banjarsari, dengan memberikan lembar persetujuan serta kesediaannya untuk menjadi responden dengan mengisi lembar persetujuan menjadi responden (inform consent). Selanjutnya, peneliti membagikan kuisioner tentang: temperamen bayi, dukungan sosial, depresi, serta keyakinan ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Dalam sehari, peneliti mendapatkan 5-10 responden yang bersedia untuk menjadi subjek penelitian. Dalam menyebarkan kuisioner, peneliti dibantu oleh kader posyandu dan diakhir penelitian, kader posyandu ikut membantu dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya ASI eksklusif. Waktu yang diberikan untuk membaca lembar penjelasan penelitian adalah 5 menit dan waktu untuk menjawab kuisioner adalah selama 45 menit dengan jumlah soal 77 buah. Inform consent dan kuisioner dibagikan satu persatu kepada responden dan dalam pengisiannya responden didampingi agar meminimalkan ketidaktepatan dalam pengisian kuisioner.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki peran yang buruk dalam memberikan ASI eksklusif sebesar (86,7%) atau sebanyak 78 responden sedangkan ibu yang memiliki peran yang baik, hanya sebesar (13,3%) atau 12 responden. Peran pemberian ASI eksklusif yang baik, ditunjukkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan atau lebih serta tidak menggunakan susu formula atau makanan pendamping ASI < 6 bulan. Terdapat hubungan antara temperamen bayi, dukungan sosial dengan peran ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Sedangkan tingkat depresi dan keyakinan ibu tidak berhubungan dengan peran ibu dalam pemberian ASI eksklusif.

Penulis: Ilya Krisnana, S.Kep.,Ns.,MKep

Informasi detil dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.psychosocial.com/article/PR290095/22772/ Krisnana I, Nastiti AA, Choirinidah N. The Factors Related to Exclusive Breastfeeding among Working Mothers Based on the Theory of Becoming a Mother Approach. Int J Psychosoc Rehabil. 2020;24(09):780–5.